Efek Ketinggian, Hidung dan Telinga sampai Berdarah

Jarak rute bersepeda dari Aspen menuju Vail, Colorado, hanyalah 148 km. Total menanjak pun tidak terlalu ekstrem, di kisaran 2.300 meter. Tapi ini rute yang benar-benar menantang kemauan dan ketahanan. Utamanya gara-gara ketinggian. Rute itu mengajak kita selalu berada di kisaran 3.000 meter di atas permukaan laut.

Aspen itu di ketinggian 2.400 meter. Rabu ceria itu, 15 Agustus, kami berangkat cukup pagi, pukul 08.00 setelah makan pagi. Saya, John Boemihardjo, Bagus Ramadhani, dan Dan Norman berangkat dikawal oleh Erik Proano, yang mengendarai mobil membawa koper dan segala kebutuhan.

Keluar dari Aspen, kami langsung menjalani rute ke arah Independence Pass. Kalau dihitung dari pinggir kota, jaraknya 31 km dari Aspen ke puncak Independence Pass, 3.687 meter di atas permukaan laut.


Ada tulisan “jalan dibuka” saat memasuki rute itu. Maklum, karena faktor keselamatan, jalan ini hanya buka Mei hingga September. Setelah itu ditutup karena salju dan cuaca ekstrem.

Seperti kebanyakan tanjakan di Amerika, kemiringannya tidak ekstrem. Kebanyakan di kisaran 6 persen, di tengahnya landai 2-4 persen, lalu kembali ke kisaran 6 persen sebelum mencapai 9 persen mendekati puncak.

Kemiringan bersahabat itu menuntut kita mengayuh secara konstan. Tidak lamban, tapi harus menjaga irama.

Terasa sekali udara tipis. Semakin ke atas semakin tipis. Walau terus minum, menambah energi dengan gel, rasanya tetap semakin lemas. Apalagi sewaktu mencapai “tree line,” ketinggian di mana pohon sudah tidak lagi bisa tumbuh.

Dan Norman dan John sudah melesat di depan. Saya sendirian. Bagus di balakang juga sendirian. Erik maju mundur untuk mengawal dan memotret.

Mendekati puncak, saya berpikir: “Mau ke puncak Independence Pass saja sudah seperti ini, dan setelah itu masih harus bersepeda lagi 110 km lebih menuju Vail!”.

Akhirnya, saya sampai ke puncak. Tanpa sekalipun berhenti, saya butuh 2 jam dan 15 menit dari Aspen ke puncak Independence Pass. Di atas, Dan Norman dan John sudah menunggu. Mereka hampir 30 menit lebih cepat sampai di puncak.

Saya langsung berfoto di papan penanda puncak. Ada tulisan “continental divide” di situ. Artinya, ini bagian dari titik tertinggi Amerika. Dari puncak ini, air hanya bisa mengalir ke laut Atlantik atau Pasifik.

Lima tahun lalu saya juga foto di sini, tapi waktu itu jauh lebih lamban dan harus berhenti-berhenti menuju puncak. Foto itu, saya bersama Sun Hin Tjendra dan Cipto Suwarno Kurniawan, masih saya simpan sampai sekarang.

Di sekitar situ, ada tempat untuk melihat pemandangan sekitar. Luar biasa spektakuler, melihat kawasan pegunungan dari titik setinggi itu. Seram juga melihat jalanan meliuk-liuk ke bawah, tempat kami harus turun setelah ini.

Hampir pukul 11.00, Bagus Ramadhani tiba. Hampir 30 menit setelah saya. Dari dia, kami melihat betapa besarnya efek altitude alias ketinggian, plus udara sangat kering, pada seseorang yang datang dari iklim dan lokasi berbeda.

Bagus mimisan. Darah mengucur deras dari hidung. Bahkan, darah juga keluar sedikit dari telinga.

Demi keselamatan, Bagus dapat dispensasi dan bisa naik mobil bersama Erik.

Saya jadi ingat pada 2013, saat USA Pro Challenge (even pendahulu Colorado Classic) diselenggarakan di sini. Joe Dombrowski waktu itu jadi andalan Team Sky, dan sepanjang etape pertama dia terus mengucurkan darah dari hidung.

 

***

Dan Norman, John, dan saya lantas turun. Memakai jaket sepeda untuk membantu menahan angin dingin.

Saya mengingatkan teman-teman tentang efek ketinggian pada kecepatan sepeda di turunan. Karena udara lebih tipis, sepeda bisa melaju lebih cepat. Jadi harus ekstra hati-hati.

Apalagi, lima tahun lalu, teman saya Prajna Murdaya juga pernah jatuh saat turunan di Colorado.

Turunan itu memang cepat. Meliuk-liuk kami melaju terus di atas 50 km/jam. John bahkan menyentuh 80 km/jam.

Kami terus turun hingga kawasan Twin Lakes (km 60 dari start). Di sana kami berkumpul lagi untuk melanjutkan perjalanan bersama. Kami tidak melewati jalan utama, karena banyak truk-truk besar lewat. Jadi kami akan melewati jalanan-jalanan alternatif, termasuk jalanan gravel (kerikil). Bahkan sempat melewati jalanan rumput.

Tujuan kami adalah Leadville, sebuah kota di ketinggian lebih dari 3.000 meter. Kota itu akan menjadi tempat kami makan siang, di km 95 dari perjalanan Aspen ke Vail.

Lima tahun lalu, di situ pula kami makan siang. Ada sebuah Chinese restaurant di sana, Szechuan Taste II. Mungkin, itu adalah restoran Chinese tertinggi di Amerika…

Kota ini juga terkenal, karena setiap tahun adalah balapan lari ultra marathon dan balapan MTB besar, bernama Leadville 100. Kebetulan, edisi 2018 diselenggarakan sekitar seminggu sebelum kami tiba di sana.

Menuju Leadville, badan saya mulai terasa lemas. Tidak ada energi. Ini bukan sekadar efek ketinggian. Ini memang bahan bakar saya mulai habis. Diisi gel tidak ngangkat.

Dengan sabar, Dan Norman dan John memandu saya, memberi semangat. Kilometer terakhir menuju restoran rasanya jauuuh sekali. Kata John, saat melihat power meter, tenaga saya hanya di kisaran 100 watt di km-km terakhir itu.

Untung setelah itu makan siang. Ada nasi, ayam, sapi, dan lain-lain. Kami mencoba makan secukupnya, tidak boleh terlalu banyak. Perjalanan masih jauh, masih ada dua tanjakan yang harus dilewati sebelum mencapai Vail.

Saat itu, saya mulai mempertanyakan diri sendiri.

Sanggupkah saya mencapai Vail? Lima tahun lalu, saya dan teman-teman menyerah dan naik mobil hanya sekitar 10 km setelah makan siang di Leadville.

Tidak ada kata mundur. Harus dicoba. Yang penting menata pace. Jangan nafsu dan menjaga tempo di tanjakan.

Sekitar 15 km jalanan menurun dari Leadville, kami sudah bertemu tanjakan selanjutnya. Bernama Tennessee Pass. Tidak curam, hanya 4-6 persen. Tapi panjaaaaang rasanya. Setelah turun dari Leadville di ketinggian 3.000 meter, kami naik lagi ke puncak Tennessee Pass di ketinggian 3.177 meter.

Tentu harus berhenti dan foto-foto di tulisan penandanya.

Vail semakin dekat. Rasanya kami masih sanggup. Ada satu tanjakan lagi, Battle Mountain. Tapi “hanya” sekitar 3 km. Setelah itu turuuuun ke arah Minturn, dan menanjak sedikit ke Kota Vail.

Betapa lega rasanya ketika mencapai Minturn, lalu belok masuk ke bike path (jalur khusus sepeda) menuju Vail.

Hanya beberapa km sebelum finis, saya bilang ke Dan dan John, bahwa saya tidak ingin muluk-muluk begitu sampai di hotel di Vail. Saya hanya ingin makan di McDonald’s. Saya ingin makan Big Mac.

Dasar jodoh. Tepat di sebelah hotel tempat kami menginap, ternyata ada McDonald’s...

Mungkin ini yang dimaksud: Kalau kita mau berusaha, maka kita akan mendapatkan apa yang kita impikan… (bersambung)


COMMENTS