"Ngirit" Tidur dan Makan Jadi Kunci Juara Ridwan-Woro di East Java Journey 2023


Azrul Ananda bersama dua juara East Java Journey 2023, M. Ridwan (kiri), Woro Fitriyanto, dan Rastra Patria (manajer Nusantara Pro Cycling Team).

DUA pembalap Nusantara Pro Cycling Team menuntaskan East Java Journey 2023 kategori 1.200 Km (Full Journey), Kamis 16 Maret 2023 di Surabaya Town Square (Sutos). Mereka finis berdekatan. Muhammad Ridwan finis dulu dengan catatan waktu 58:57:36. Sedangkan Woro Fitriyanto menyusul setelahnya 59:17:54.

Finis kedua pembalap Nusantara Pro Cycling Team itu istimewa. Kebetulan kedatangan mereka beriringan dengan proses pengambilan starter kit dan pelaksanaan technical meeting (TM) East Java Journey kategori 600 Km atau Half Journey. Otomatis para peserta kategori 600 Km menjadi saksi juara pertama event ultra cycling Mainsepeda.

Begitu sampai di garis finis, Ridwan tampak gugup. Sementara Woro terlihat lebih relaks. Gugupnya Ridwan juga karena ia sempat bersenggolan dengan pemotor ketika memasuki Jalan Ahmad Yani, Surabaya.

Ridwan mengaku sejak awal berupaya gowes secepat mungkin. “Agar bisa mengatur tempo dan tidur, agar tidak ketinggalan,” kata Ridwan. Ia perlu melakukan hal itu karena selama ini belum punya pengalaman mengikuti event ultra cycling.

Pria kelahiran Selayar, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara itu mengaku tidur rata-rata hanya satu jam tiap harinya. “Paling lama tidur pas di bawah tanjakan Gumitir (Jember). Di masjid,” kata Ridwan.

Dari pantauan Mainsepeda, kejadian itu di hari kedua, Rabu (16/3). Saat itu Ridwan tidur hampir dua jam. Ia mulai tidur pukul 21.30. Lalu melanjutkan gowes sekitar pukul 23.20.

Ketika mempunyai kesempatan tidur, pria kelahiran 11 Oktober 2000 itu lebih memilih di masjid. “Lebih bersih kalau di masjid,” ungkapnya. Mengenai pengaturan makan, Ridwan memilih asupan yang cepat dicerna seperti roti. Ia hanya makan nasi jam 12 siang dan jam 6 sore.

Yang lebih ekstrem malah Woro Fitriyanto. Ia nyaris tak makan nasi. Ia memilih membawa bekal sebanyak mungkin saat sampai di check point. Membawa sedikitnya lima botol air minum. Plus roti-roti yang disediakan panitia.

Mengenai rute yang paling berat, Ridwan mengakui ada di segmen antara Pacitan hingga Trenggalek. Sedangkan segmen tanjakan di Lumajang hingga Jember, Ridwan mengaku tak ada masalah. “Malah lebih bisa menikmati keindahannya,” ungkapnya.

Bagaimana dengan Woro? Ternyata jawabannya sama. Woro sepakat tanjakan di Pacitan-Trenggalek paling perih. Apalagi ia melintasi rute itu saat malam hari. “Saya mbatin, kok tanjakan gak entek-entek sopo sing gawe rute iki. Opo tahu nyoba,” kelakar pria asal Batang Jawa Tengah itu.

Cerita Woro memang banyak yang menarik. Apalagi soal bagaimana ia mengatur istirahat. Woro mengaku awalnya banyak istirahat. Kondisi itu menyebabkan sempat tertinggal jauh dari Ridwan di awal-awal lomba. “Saya istirahat lama, tapi tidak pernah bisa tidur,” cerita Woro.

Salah satu yang menyebabkan Woro tak bisa tidur adalah ia merasa terancam dengan Bambang “Bembenx” Anggoro Jati. Pesaing terdekatnya yang kerap berkejaran merebutkan posisi 2 dan 3. “Saya sering penasaran lihat posisi Mas Bembenx. Kegiatannya apa, sampai di mana,” ujarnya.

Woro mengaku sempat terkecolongan Bembenx ketika kejar-kejaran di Jalur Lintas Selatan (JLS). Ia sempat kesepian dan mendekat ke Bembenx. “Beliau bilang jangan dekat-dekat khawatir dianggap melanggar. Kemudian saya memutuskan jalan dulu cari warung. Eh tidak nemu, adanya pos ronda,” ceritanya. Saat asyik rebahan tiba-tiba Bembenx nyalip. Woro segera beranjak mengejar.(mainsepeda)


COMMENTS