Gara-gara pandemi Covid-19, para cyclist sempat berhenti gowes outdoor. Selain itu, banyak event gowes yang ditunda. Tapi, pandemi Covid-19 juga yang membuat olahraga bersepeda tumbuh sangat pesat. Ada banyak cyclist baru yang bermunculan.

Ada yang bermain sepeda lipat dan sepeda gunung (MTB). Kemudian sebagian di antara mereka beralih ke road bike. Sebagai pengguna road bike baru, banyak hal yang dialami para newbie ini. Seperti crash di jalan raya, atau jatuh karena belum beradaptasi dengan clipless pedal.

"Saya terpanggil untuk berbuat sesuatu. Saya belajar bersama mereka. Bukan menggurui, lebih ke belajar bareng. Sebab road bike itu beda. Sering dikonotasikan dengan kecepatan. Jadi handling harus benar. Kalau tidak ada dasar, bisa celaka," kata Hermansyah Handoko, Ketua Harian Kelapa Gading Bikers (KGB) Jakarta.

Herman tidak mengajar sendirian. Ia dibantu Dhanu Mulyo Rahardjo dari KGB Racing Team. Berdua mereka menularkan ilmu kepada pada cyclist lainnya. Inilah cikal bakal KGB Cycling School. Salah satu backbone KGB ini berdiri pada medio tahun lalu. Sekitar Juli-Agustus 2020.
Proses pengajarannya dimulai dari yang paling sederhana. Seperti memasang sepatu ke clipless pedal, atau tentang handling sepeda. Proses mengajarinya juga tak susah. Sebab hobi membuat orang happy. Begitu senang, proses pengajarannya juga cepat.

"Kecuali yang tidak pernah olahraga sama sekali. Bahkan ada yang sebelumnya tidak bisa naik sepeda sama sekali. Awalnya memang mereka tidak tahu. Setelah tahu, prosesnya lebih cepat," bilang KGB02 ini.

Walau baru setahun dibentuk, KGB Cycling School sudah memiliki member lebih dari 100 orang. Rentang usianya dari 12 tahun hingga 58 tahun. Profesinya macam-macam. Mulai anak sekolah sampai kalangan profesional. Dari dokter hingga pilot. Makin seru karena para suami juga mengajak istrinya untuk ikut gowes.

Mereka rutin bersepeda di dalam kota. Atau gowes ke kota-kota di sekitar Jakarta pada akhir pekan. Sekali gowes bisa 150 kilometer. KGB Cycling School juga pernah mengadakan tur ke Jogjakarta beberapa waktu lalu. Pesertanya dibatasi. Hanya 20 cyclist.

KGB Cycling School mengadakan tur ke Jogjakarta pada pertengahan 2021 

Mereka bertolak ke Jogja menggunakan bus. Sepedanya pun diangkut di dalam bus. "Biar mereka merasakan bagaimana rasanya ikut event sepeda," jelas Herman.

Tak seperti sekolah pada umumnya, KGB School tidak dipungut biaya. Gratis. Member tinggal membeli jersey. Harganya pun sangat miring. Sebab KGB mendapat dukungan penuh dari SUB Jersey dan sponsor lainnya. "Yang kami cari adalah teman, bukan uang," tegasnya.

Berbeda dengan jersey KGB dan KGB Racing yang didominasi warna hijau, KGB Cycling School mengusung warna biru dan ungu. Tahun depan, mereka tampil menyala dengan warna merah. "Mereka kan baru sekolah. Sehingga jersey-nya warna-warni," canda Herman.

Sesekali Herman juga mengundang para pembalap dari KGB Racing. Selain untuk gowes bareng, Dealton Nur Arif Prayogo dan kawan-kawan juga diminta berbagi ilmu dengan member KGB Cycling School.

Rafi Bepasha, salah satu newbie yang menonjol di KGB Cycling School

Selama setahun berdiri, ada satu cyclist muda yang sangat menonjol di KGB Cycling School. Namanya Rafi Bepasha. Usianya 14 tahun. Hobinya basket. Ia beralih ke sepeda selama setahun terakhir. Ternyata Rafi menunjukkan bakat di olahraga ini. Ia selalu tampil memukau di beberapa lomba gowes.

Herman beserta pentolan KGB lainnya terpincut dengan bakat Rafi. Ia telah dibekali dengan sepeda khusus dengan branding KGB Cycling School. "Kalau ke depan bagus, Rafi bisa ditarik ke KGB Racing," kata Herman. (mainsepeda)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 59

Foto: Instagram KGB Cycling School


COMMENTS