Cyclist Indonesia Mengenang Perihnya Monte Zoncolan

Giro d'Italia 2021 akan membawa peloton menanjak menunju puncak Monte Zoncolan di Etape 14, Sabtu (22/5) besok. Rute ini menjadi salah satu yang terberat di minggu kedua. Balapan akan dimulai dari Cittadella. Panjang keseluruhan rutenya 205 kilometer.

Monte Zoncolan adalah tanjakan Kategori 1 sepanjang 14,1 kilometer. Kemiringan rata-ratanya 11,9 persen. Nanti peloton akan menuju puncak Zoncolan melalui Sutrio. Konon Monte Zoncolan disebut sebagai tanjakan terberat di Eropa. Lebih berat dari Alto de Angliru di Spanyol.

Pada 2014 itu pula, sejumlah cylist Indonesia merasakan betapa kejamnya tanjakan ini. Zoncolan menjadi menu terakhir dari tur seminggu di Italia waktu itu. Mereka menanjak ke Zoncolan dari Ovaro. Panjang rutenya sekitar 10 kilometer. Meski pendek, ini adalan tanjakan monster.
"Waduh, ini adalah tanjakan paling berat yang pernah saya taklukkan," ucap Sunhin Tjendra, salah satu cyclist yang waktu itu ikut nanjak ke Zoncolan.

"Tanjakan ini tidak terlalu ekstrem hingga gradien 30 persen. Gradiennya antara 16 persen hingga 19 persen non stop. Hampir tidak ada jeda untuk istirahat. Kalau pun ada, itu kemiringan 10 persen. Jadi tanjakan ini memang menyiksa sekali," bilangnya.

Saking beratnya, tak semua cyclist berhasil mencapai puncak. Bukan karena mereka tak sanggup, tapi jalurnya sudah ditutup panitia karena peloton sudah mau mencapai ke Zoncolan. Sunhin bangga sebab ia termasuk satu dari sedikit cyclist yang berhasil mencapai puncak Zoncolan.

Tonny Budianto

Cyclist senior Tonny Budianto mengamini pengakuan Sunhin. Tonny juga menyebut Zoncolan sebagai tanjakan paling berat yang pernah ditaklukkan. Tonny mengaku sering berhenti di setiap tikungan untuk menurunkan detak jantung dan mengistirahatkan kaki.

"Menanjak Zoncolan itu penuh perjuangan. Banyak yang jatuh waktu di tengah. Ada yang nempel ke tebing saat beristirahat. Seingat saya, saya juga sempat jatuh," kata Tonny lantas tertawa. "Pokoknya Zoncolan ini betul-betul menyiksa. Mengerikan sekali," imbuh cyclist yang bermukim di Bangkalan itu.

Betapa bangga Tonny ketika berhasil mencapai puncak. Akan tetapi, pekerjaan belum selesai. Sebab menuruni Zoncolan bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi mereka juga turun bersama ribuan orang lainnya yang baru selesai menonton balapan Giro.

Junaidi Widyanto Irwan

Cyclist Surabaya Junaidi Widyanto Irwan mengakui bahwa Zoncolan adalah tanjakan yang menyiksa. Junaidi yang kala itu lebih berisi daripada kondisinya saat ini, butuh kerja ekstra untuk mencapai puncak. Ia bangga karena bisa finis sebelum rombongan pembalap melintas. Sehingga aksesnya belum ditutup.

"Kalau di Jawa Timur, tipikal Zoncolan ini seperti tanjakan di Cangar. Berat sekali. Waktu itu tersiksa sekali. Tapi itu dulu. Sekarang mungkin bisa berbeda karena saya lebih ringan," jelas Coach J, sapaan akrabnya.

Sony Hendarto

Cerita yang out of the box dibagikan Sony Hendarto. Kolektor sepeda asal Madiun ini menggambarkan Zoncolan sebagai tanjakan yang mengerikan. Karena medan yang curam serta jalanan yang ramai, membuat Sony lebih sering menuntun sepedanya daripada gowes. Ini adalah jalan yang menurutnya lebih aman dan nyaman.

"Saya 30 persen gowes dan sisanya jalan kaki. Lha wong jalan kaki bisa lebih cepat daripada gowes. Bahkan saya sempat menyalip pak Khoiri (Ketua SRBC). Ia gowes, saya jalan," katanya lantas tertawa.

Perkara menuruni Zoncolan untuk kembali ke penginapan, Sony senada dengan tiga cyclist lainnya. Ia ekstra hati-hati. Sebab, selain curam, ada banyak orang yang melintas. "Dulu saya tidak seberani sekarang. Orang-orang sana sangat nekat. Saya alon-alon saja daripada jatuh," cerita Sony.

Terlepas dari rutenya yang menyiksa, Sony mengaku tersihir oleh panorama indah di Zoncolan. "Tempat yang menarik. Pengalaman pergi seperti ini sangat memorable. Salah satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," ungkapnya. (mainsepeda)


COMMENTS