dr Yodi dan Pengalaman Istimewa Gowes di We Ride Flanders
by - July 13, 2020

Pengalaman bersepeda dr. M. Ayodhia Soebadi, Sp.U sungguh menarik. Dua tahun lalu, disela-sela menempuh pendidikan S3 di University of Leuven (KU Leuven) di Belgia, ia menyempatkan diri menjajal salah satu rute bersepeda klasik paling masyhur di dunia, Flanders.

Bagi pecinta olahraga balap sepeda, Flanders merupakan salah satu rute balap paling terkenal. Bahkan Tour of Flanders termasuk satu dari lima balapan Monumen di dunia. Digelar sejak 1913, Tour of Flanders menjadi salah satu one day race yang sangat dinantikan para pembalap top dunia.

Event ini biasanya berlangsung awal April. Atau saat dimulainya musim semi di Eropa. Nah, sehari sebelum Tour of Flanders dimulai, ada sebuah event yang dibuka untuk umum. Namanya We Ride Flanders. Pesertanya belasan ribu orang! Dari seluruh dunia!

Dua tahun lalu dokter asli Surabaya tersebut berkesempatan untuk mengikuti We Ride Flanders 2018. Pada awalnya ia diajak oleh salah satu rekan kerja. Kebetulan temannya tersebut berasal dari Flanders. Ajakan itu langsung ia terima.

"We Ride Flanders adalah acara grand fondo yang pesertanya dari seluruh dunia. Dan pesertanya dibatasi. Maksimal 16 ribu orang. Jaraknya macam-macam. Saya janjian dengan teman saya ikut yang 142 kilometer. Itu pun rasanya capek semua," ungkap dr Yodi, sapaan akrabnya.

Setelah mendaftar dan diterima, dr Yodi mulai melatih diri agar bisa finis bahagia di We Ride Flanders. Ia mulai latihan di jalan. Ketika Belgia mulai memasuki musim dingin, dr Yodi rajin berlatih di rumah menggunakan trainer. Ia juga menggunakan aplikasi Zwift dan mengikuti sejumlah program latihan di sana.

Selain persiapan fisik, dr Yodi juga mulai mengumpulkan pakaian yang sesuai. Ia menjelaskan bahwa We Ride Flanders itu dilaksanakan pas awal musim semi. Suhunya bisa di bawah 10 derajat celcius. "Pelaksanaannya kan minggu terakhir Maret atau awal April. Itu bisa dingin sekali," katanya.

Ketika mendekati hari H, karibnya yang mengajak ikut We Ride Flanders justru tak bisa berpartisipasi karena istrinya melahirkan. Jadilah dr Yodi berangkat ke 'medan pertempuran' sendirian. Ia berangkat dari rumahnya ke Leuven pukul 05.00 pagi. Tempat tinggalnya berjarak dua jam dari titik start di Oudenaarde.

Perjalanan pun dimulai. Alumnus Universitas Airlangga (Unair) ini merasakan tantangan menaklukkan rute Flanders yang tersohor itu. Terlepas dari rasa lelah, ia takjub dengan atmosfer yang disuguhkan selama event ini berlangsung. Menurutnya, ajang balap sepeda seperti pesta rakyat bagi masyarakat setempat.

"Jadi yang menonton itu sangat banyak. Tiap tanjakan ada banyak yang nonton. Ada sekitar sepuluh hingga 15 tanjakan. Dan di setiap akhir tanjakan ada penduduk setempat yang memberikan dukungan, bahkan bertepuk tangan. Sangat menyenangkan," akunya.

Mengikuti We Ride Flanders menjadi salah satu pengalaman bersepeda yang tak akan pernah dilupakan bagi member Young Surgeon Cycling Community (YSCC) tersebut. Juga menjadi salah satu pencapaian terbesarnya dalam bersepeda.

"Saya itu tidak bisa basket. Saya merasa jago berolahraga. Ternyata dengan bersepeda itu saya menemukan olahraga yang saya bisa melakukan sesuatu. Bisa mencapai yang saya dulu tidak membayangkan bisa melakukan itu. Itu yang bikin saya senang," ucapnya bangga.

Selain mengikuti We Ride Flanders, dr Yodi rutin bersepeda selama empat tahun kuliah S3 di Belgia. Berbagai macam jenis sepeda sudah ia coba. Mulai road bike, sepeda gunung (MTB), hingga sepeda lipat. "Karena ini hiburan murah meriah, jadi ke mana-mana saya bersepeda," tuturnya. (mainsepeda)

Episode Keempat Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray: Tips beli sepeda, mahal atau murah? karbon atau besi?

Audionya bisa didengarkan di sini

Foto: Dokumentasi Pribadi dr. M. Ayodhia Soebadi, Sp.U, Sportograf


COMMENTS