Antangin Bromo KOM Challenge 2018, yang berlangsung Sabtu, 21 April lalu, terbagi dalam dua kategori. Yang pertama race, memperebutkan gelar raja atau ratu tanjakan dalam tujuh kategori berbeda. Yang kedua adalah peloton non-kompetitif, yang sebenarnya juga merupakan race, tapi melawan diri sendiri. Karena peserta hanya diberi waktu empat jam untuk dinyatakan lulus.

Karena itu, aneka ragam komentar bisa didapatkan. Apalagi, peserta datang dari berbagai latar belakang. Mulai pembalap kelas internasional hingga “turis” dari 70 kota, 20 provinsi di tanah air (plus sejumlah negara lain).

Dari 500 peserta yang mendaftar, sebanyak 452 resmi mengikuti start dari GOR Untung Suropati Pasuruan. Dan 74 persennya sukses menaklukkan cut off time, resmi tercatat sebagai finisher. Catatan luar biasa untuk even menanjak seberat ini.

“Tahun ini, nama evennya dan konsepnya memang lebih serius. Sehingga peserta yang datang pun lebih serius dari even serupa tahun-tahun sebelumnya. Dulu, mungkin hanya 50 persenan yang mencapai finis di Wonokitri,” kata Azrul Ananda, penggagas even climbing ke Bromo ini.

Para peserta memang super niat mengalahkan cut off time. Khususnya mereka yang datang dari jauh, seperti grup dari PT Pelayanan Energy Batam (PEB).

“Kemasan acaranya keren. Saya tidak ikut yang balapan, tapi berasa balap banget. Berlomba dengan waktu itu berat juga ternyata. Di Batam, tidak ada tanjakan seram begini. Menyeberang ke Singapura juga tidak ada tanjakan. Untung saya bisa lulus,” ungkap Diana Rosa, cyclist perempuan asal Batam.

Bos PEB, Lutfi Nazi, juga sangat senang, bangga, dan merasa terhormat bisa gowes ke Bromo bersama Azrul Ananda dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman.

“Tidak rugi kami datang jauh-jauh dari Batam. Bisa foto dan gowes bareng Azrul dan Pangdam. Sejak dari start saya coba ikuti mereka tapi akhirnya terkewer-kewer juga. Maklum di Batam tidak ada tanjakan yang begini,” tuturnya lantas tertawa.

Lutfi Nazi (tiga dari kiri) bersama tim sepeda PT. Pelayanan Energy Batam yang bangga bisa selesaikan Antangin Bromo KOM Challenge 2018 sebelum cut off time.

 

Untung di feeding zone ada layanan fisioterapi dari Physiopreneur, partner kesehatan Antangin Bromo KOM Challenge 2018. Lutfi dkk merasa lumayan bisa relaksasi sebentar.

Tapi demi mengejar cut off time, fisioterapi tidak bisa terlalu lama. Lutfi dan tujuh kawannya melanjutkan perjalanan menuju titik finis di Wonokitri. “Pelan-pelan dikombinasi dengan tuntun bike. Akhirnya kami semua bertujuh bisa dapat medali dan foto bareng di photobooth yang disediakan panitia. Puaaaasssss banget rasanya!” kata Lutfi.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman, yang baru menjabat empat bulan di Surabaya, sangat gembira bisa menjadi bagian dari even climbing ke Bromo, hasil kerja sama Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS), Mie Bola Mas, dan OtakOtak Event Organizer ini.

Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Arif Rahman bersama Azrul Ananda di finis Wonokitri, Bromo.

 

Saat start di GOR Untung Suropati Pasuruan, pria ramah ini sangat bersemangat menyiapkan sepedanya. “Saya akan coba semaksimal mungkin sampai finis,” tekadnya sambil melepas lampu depan yang dianggap membuat sepeda Wilier-nya jadi berat.

“Mungkin ini bersepeda paling berat buat saya. Meskipun saya belum lulus sampai Wonokitri, paling tidak saya bisa mencapai feeding zone dua di kawasan Baledono,” ucapnya bangga, usai menyerahkan piala kepada para juara KOM/QOM di Wonokitri.

Yang dirasakannya adalah berat badan sangat berpengaruh untuk climbing. “Selama ini rute saya flat dan apabila ada nanjaknya pun tidak sepanjang Bromo ini. Jadi sepulang dari sini saya harus kurangi berat badan saya sekitar lima kilogram, biar tahun depan lulus Bromo KOM Challenge,” tutur Arif lantas tertawa.

Bila para pembalap butuh waktu tak sampai dua jam untuk finis, banyak peserta memang harus berjuang habis-habisan supaya bisa lulus dalam empat jam. Walau rute “hanya” 40 km, tapi semua harus menanjak dari setara permukaan laut hingga ketinggian 2.000 meter!

Yohan Hoki, cyclist asal Surabaya yang baru sekitar dua tahun bersepeda, puas bisa menyelesaikan tantangan dengan waktu sekitar tiga jam saja.

“Saya rutin latihan menanjak dalam tiga bulan terakhir. Bahkan beberapa minggu terakhir ini saya berulang kali ke Bromo. Simulasi sendiri. Saking takutnya tidak bisa lolos dari cut off time,” bilang pengusaha kompor gas ini.

Yohan Hoki yang giat latihan demi lolos cut off time 4 jam.

 

Latihan cukup, tanpa didukung mental telaten dan ulet, juga mungkin tidak cukup untuk “lulus” ujian Bromo. Itu menurut Jefri Sutanto, cyclist asal Bandung.

“Meskipun saya ikut race, tapi bukan masalah adu kencangnya. Justru adu sabar itu poinnya. Percuma kalau kencang tapi tidak sabar alias nafsu. Pasti habis duluan. Memang saya belum podium tapi Bromo melatih kesabaran saya,” tutur pria yang bertarung di kelas Men Senior (usia 51 ke atas) tersebut. 

Jefri Sutanto yang berlatih kesabaran di Bromo.

 

Anggota komunitas SKS Bandung ini merasa latihan rutin di medan rolling (naik turun) dari Bandung ke Pintu Tangkuban Perahu masih kurang tepat untuk menaklukkan Bromo.

“Sampai setengah perjalanan menuju Wonokitri, saya sudah ‘habis’ duluan. Untung grup Bandung bisa mendapatkan satu posisi di podium kelas Men Senior diwakili oleh Hartadi,” bilang pengguna BMC SLR-01 tersebut.

Latihan yang dilakukan Hartadi sendiri lumayan ekstrem. Bersepeda tandem bersama istri tercinta menanjak di sekitaran Bandung. Hasilnya nyata, berhasil membawa uang Rp 2 juta sebagai hadiah juara dua Antangin Bromo KOM Challenge 2018 di kelasnya.

 

ANGGAP EVENT TERBAIK

“Ini sudah kedua kalinya saya ikut even menanjak ke Bromo. Tahun ini suasanya beda banget, jauh lebih profesional karena ada balapannya. Saya nggak mungkin dapat gelar KOM, tapi saya senang dapat euforia keseruannya. Dengan batas waktu empat jam, membuat saya harus kram berkali-kali di tiga kilometer menjelang Wonokitri. Saya masih menyimpan kerinduan dengan Bromo. Kerinduan bersepeda sambil bertafakur alam atas ciptaan Allah,” komentar Arif Dharmawan, cyclist anggota BRCC Banyuwangi.

Senada dengan Arif, Rusdi asal Makassar juga suka dengan konsep baru yang menurutnya keren ini. “Saya merasakan perbedaan konsep yang mencolok. Tahun lalu saya ikut yang start dari Surabaya jadi total 100 km. Tahun ini kesannya enteng rute pendek hanya 40 km. Tapi itulah ujian sebenarnya,” tutur pemilik Rusdi Galeri Makassar ini.

Rusdi menambahkan bahwa Bromo adalah even terbaik untuk menantang dan menaklukkan diri sendiri. “Cuaca sempat panas jadi tidak berkabut, kelihatan pemandangannya bagus. Gradiennya menjadi tantangan berat, walaupun bersusah payah tapi terbayar saat mencapai finis. Rasanya plong bisa menang melawan diri sendiri. Apalagi saya lulus sebelum cut off time. Saya resmi sudah ‘naik haji’ dua kali nih ke Bromo,” ucapnya bangga.

Rusdi, cyclist asal Makassar yang sudah sah "naik haji" dua kali menanjak ke Wonokitri, Bromo.

 

Kalau Rusdi merasa “cukup” melahap ujiannya yang 40 km itu, Simon Pasaribu, cyclist asal Jakarta, malah kurang. “Nggak afdol, jauh-jauh dari Jakarta masak gowes cuman 40 km. Saya ikut beberapa teman start dan finis Surabaya, jadi total 200 km nih,” kata cyclist yang kerap latihan bareng komunitas Bintaro Loop ini.

Simon Pasaribu, cyclist asal Jakarta yang merasa "kurang" nanjak 40 km ke Wonokitri, Bromo.

 

Meski gowes dari Surabaya, Simon masih bisa finis ke Wonokitri di ketinggian 2.000 m di bawah empat jam.

Cerita seru juga datang dari Fitra Tara Mizar, cyclist asal Bandung penggila sepeda retro dan vintage.

Tara, panggilan akrabnya, mengaku sudah dua kali menanjak Bromo dengan sepeda spesial. “Pertama kali dulu tahun 2016 pakai sepeda custom Passoni XXTi berbobot sekitar lima kilogram saja. Kali ini saya pingin banget nanjak Bromo dengan sepeda retro atau vintage karena itu sebuah pengalaman luar biasa pastinya,” bilang kepala litbang ISSI Jabar tersebut.

Fitra Tara Mizar sempat galau memilih sepeda retro atau vintage yang akan dibawanya menaklukkan Antangin Bromo KOM Challenge 2018.

 

“Tiga hari sebelum even, saya galau banget. Saya pengin sekali pakai sepeda full vintage tanpa ada parts karbon dengan bobot 9 kg lebih. Tapi teman-teman bilang saya ada kans untuk podium, jadi niatan saya mulai goyah. Akhirnya saya putuskan untuk pakai sepeda retro, Tommaso tahun 1996 yang sudah menggunakan beberapa parts karbon. Jadi bobotnya bisa sekitar 6 kg,” tutur Tara.

Buatnya, menanjak Bromo dengan Tommaso itu seperti bermeditasi menenangkan batin. “Setiap kelokan dan tanjakan Bromo yang tidak ada habisnya itu benar-benar saya nikmati,” pungkasnya.

Antangin Bromo KOM Challenge 2018 ini juga didukung oleh Citicon, Honda Surabaya Center, O’Donuts, Hotel Horison Pasuruan, dan Parasol. (mainsepeda)

 


COMMENTS