Sepeda-Sepeda Penarik Perhatian di Tour Down Under 2020
by - February 01, 2020
Sepeda-Sepeda Penarik Perhatian di Tour Down Under 2020
by Azrul Ananda - February 01, 2020

Ada sisi lain yang seru dari Tour Down Under (TDU) 2020 di Adelaide, yang berakhir 26 Januari lalu. Melihat langsung sepeda-sepeda yang digunakan untuk WorldTour tahun ini. Ya, keluaran terbaru mungkin baru akan muncul menjelang Tour de France, pertengahan tahun nanti. Tapi, sejumlah sepeda dan corak baru sudah nongol di lomba pembuka tersebut.

Tulisan ini tidak akan menampilkan semua tim WorldTour. Hanya beberapa sepeda yang mencuri perhatian, yang paling eye-catching, dan yang "menyembunyikan" sesuatu.

Secara overall, semakin terlihat perbedaan "agama" dalam hal pemakain sistem rem. Dan itu berdasarkan negara/benua.

Semua tim yang disokong pabrikan Amerika, seperti Trek, Specialized, dan Cannondale, sekarang sudah full time menggunakan sistem disc brake. Sedangkan pabrikan Eropa yang menggunakan disc brake, yaitu Canyon, melakukannya karena disokong oleh produsen grupset asal Amerika: SRAM.

Di sisi lain, produsen-produsen besar Italia tampak masih keukeuh menggunakan sistem rim brake. Seperti Pinarello pada Team Ineos, Bianchi milik Jumbo-Visma, dan Colnado yang dipakai UAE Team Emirates. Kecuali De Rosa dan Wilier, yang sudah ikutan ke disc brake.

Produsen Taiwan, Merida dan Giant, ikutan aliran Amerika dan memaksakan sistem disc brake pada tim yang mereka dukung.

Walau semakin banyak yang meninggalkan rim brake, masih belum mutlak apakah ke depan semua pasukan WorldTour akan pindah memakai disc brake!

Anyway, berikut ini beberapa sepeda yang memikat mata penulis. 

 

BIANCHI

Bianchi, produsen Italia, adalah merek sepeda tertua di dunia. Warna celeste mereka begitu ikonik, setara dengan merah Ferrari di dunia mobil.

Di Tour Down Under, seluruh pasukan Jumbo-Visma menggunakan Oltre XR4, sepeda allround yang telah membantu meraih kemenangan di segala bidang. Mulai sprint sampai grand tour overall.

Masih memakai sistem rim brake, ini mungkin sepeda paling "matching" di seluruh peloton. Seluruh komponennya disokong Shimano, mulai grupset, wheelset, hingga power meter. Kokpitnya dari FSA/Vision, dengan sadel Fizik. Lihat saja, sampai bottle cage pun ada nuansa celeste-nya!

 

WILIER-TRIESTINA

Pasukan Kazakhstan, Astana, punya suplier baru untuk 2020. Setelah beberapa tahun memakai Argon 18, sekarang mereka memakai Wilier Triestina. Semua pembalap mereka di TDU menggunakan Wilier Zero SLR terbaru, dengan sistem disc brake.

Wilier Zero SLR Astana.

Corak warna Wilier Astana ini sangat memikat. Lebih asyik dilihat dari dekat daripada dari foto atau video. Warna biru khas metalik memendar indah. Dan kalau dilihat dari dekat, ada detail "batik" Kazakhstan di bagian atas top tube, stem, dan handlebar!

Detail Wilier Astana.

Corak baru ini dipamerkan jelas di area Race Village. Wilier memajang sepeda milik Jakob Fuglsang (yang tidak ikut TDU) di sana.

 

EDDY MERCKX (atau RIDLEY?)

Tim Prancis, AG2R La Mondiale, sudah sejak 2019 menggunakan sepeda Eddy Merckx. Merek yang dimunculkan oleh sang legenda balap sepeda itu sekarang sedang mencoba bangkit, setelah diakuisisi oleh grup Ridley (Belgian Cycling Factory).

Seharusnya, ada dua jenis sepeda yang digunakan oleh Romain Bardet dkk pada musim 2020 ini. Yang pertama seri 525, satu lagi Stockeu69. Di Tour Down Under, semua pembalap menggunakan Stockeu69 versi rim brake.

Warnanya dominan putih, dengan aksen biru muda dan cokelat/hitam khas AG2R. Tapi, perhatikan baik-baik sepeda itu. Karena pada dasarnya Stockeu69 adalah sepeda yang sama dengan Ridley Helium SLX, yang digunakan Tim Lotto-Soudal.

Label Eddy Merckx berkode Ridley Helium.

Dan ketika dilihat lebih dekat, stiker UCI pada seat tube memang menunjukkan kalau ini adalah Ridley Helium yang di-branding Eddy Merckx.

Anggap saja ini seperti Agya dan Ayla, Avanza dan Xenia. Dua produk yang sama menggunakan merek berbeda, karena di bawah pemilik yang sama!

 

DE ROSA

Selamat datang lagi di WorldTour! Produsen legendaris asal Milan, De Rosa, sekarang kembali ke level tertinggi bersama tim Prancis, Cofidis Solutions Credits. Kali terakhir mereka tampil di tingkat ini adalah pada 1994.

De Rosa Cofidis.

Untuk menghadapi musim 2020, para pembalap Cofidis punya opsi dua sepeda. Yang ingin aero bisa memakai Pininfarina SK, hasil kolaborasi dengan rumah desain kondang Italia. Yang allrounder bisa pakai tipe Merak.

Terus terang, secara penampilan De Rosa di WorldTour relatif "standar." Warna merah menyala polos. Itu saja. Kecuali sepeda yang ditunggangi Elia Viviani. Sebagai juara Eropa, dia dapat senjata berwarna dominan putih dengan aksen biru Uni Eropa.

Paling tidak, bagi penggemar sepeda, sekarang ada merek baru mewarnai balapan kelas dunia.

 

CANNONDALE

Mungkin, sepeda-sepeda Cannondale tunggangan EF Pro Cycling adalah yang paling atraktif di WorldTour 2020. Ini tim benar-benar matchy-matchy, dari helm POC, seragam Rapha, hingga tunggangannya.

Cannondale SystemSix.

Cannondale SuperSix Evo.

Bila apparel-nya dominan pink menyala dengan aksen biru, maka sepeda SuperSix Evo dan SystemSix justru dominan biru gelap dengan aksen pink.

Sayang, foto dan video tidak bisa menyampaikan secara adil seberapa cakep corak warna sepeda-sepeda EF ini. Benar-benar harus dilihat dengan mata sendiri untuk menikmati keindahannya secara utuh!

 

LAIN-LAIN

Di TDU, skuad Bora-Hansgrohe dan Deceuninck-QuickStep pada dasarnya masih menggunakan Specialized S-Works Tarmac dan Venge dari musim lalu. Begitu pula Trek-Segafredo, yang memakai Emonda dan Madone SLR merah seperti musim lalu. Dari kubu ini, sepeda juara dunia Mads Pedersen termasuk paling mendapat sorotan sepanjang lomba.

Team Ineos masih menggunakan Pinarello Dogma F12 dan F12 X-Light warna hitam polos. Walau ada penampakan beberapa sepeda yang warnanya matching dengan seragam Ineos. Hitam dengan gradasi merah hati.

Warna paling "biasa" adalah Giant tunggangan CCC Team. Hanya hitam polos biasa dengan logo putih. Warna yang mencoba mencolok lain adalah Merida-nya Bahrain McLaren. Oranye mencolok di depan membuatnya terkesan sangat "Formula 1." (azrul ananda)


COMMENTS