Hari Fitrianto membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dalam olahraga. Sepanjang ada semangat dan kemauan, bagaimana pun sulitnya, satu cita-cita bisa dicapai. Vonis buta dan harus pensiun dari arena balap sepeda pada medio 2018, ia jawab dengan penampilan solid di Tour de Indonesia 2019 dan International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2019.

Hari mengalami kecelakaan hebat pada 6 Juli 2018 di tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat. Saat berlatih mempersiapkan diri tampil di Asian Games 2018, ia tertabrak mobil. Saking kerasnya benturan, empat ruas tulang belakangnya retak. Saraf matanya pun terjepit. 

Asian Games yang sudah di depan mata pun ia lewatkan. Bahkan, dokter menyebut karir pembalap asal Lamongan itu harus berakhir. ”Dokter memvonis mata saya buta,” kata Hari. ”Memang mata kiri saya tidak bisa melihat. Sebab tulang di sekitar mata saya sudah patah. Saya tidak bisa melihat karena ada saraf yang terjepit,” lanjutnya.

Vonis dokter itu membuat Hari down. Perjuangannya tampil di Asian Games di depan pendukung sendiri buyar. Lebih parah lagi, balap sepeda yang mencari sumber mata pencahariannya harus ia tinggalkan.

Meninggalkan pemusatan latihan nasional, ia pulang ke kampung halamannya di Lamongan. Di sana secara rutin ia menjalani perawatan dan pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Surabaya Barat.

Di saat yang bersamaan, Dahlina Rosyida, istri Hari Fitrianto, terus meyakinkan sang suami untuk tidak menyerah. Dahlina yang juga pembalap nasional meyakinkan Hari bahwa ia masih bisa kembali ke ajang balap. 

Selalu di antar istri selama menjalani perawatan membesarkan hati Hari. Kepercayaan diri mantan pembalap Nex CCN Cycling Team itu tumbuh.

”Anak, dan istri. Mereka yang membuat saya bersemangat untuk sembuh,” ucap pembalap yang akrab disapa Kacong itu. ”Ketika sakit, saya bertekad untuk membuktikan kepada istri saya, dan anak saya, bahwa ayah bisa bersepeda lagi,” lanjutnya.

Selama enam bulan lamanya, Hari menjalani perawatan intensif. Untuk menyembuhkan luka dan cederanya. Fokus. Tidak ada latihan bersepeda di luar ruangan maupun balapan yang dia ikuti.

Arahan dokter dia patuhi dengan sangat disiplin. Termasuk beristirahat total dari sepeda. Dia hanya bisa bersepeda statis. Itu pun dengan menggunakan penyangga tubuh, agar cedera di bagian punggungnya tidak semakin parah.

”Saya harus beraktivitas. Harus bergerak. Kalau di rumah saja malah bukan terapi namanya. Malah bikin tambah stres,” ucap bapak dua anak itu.

Maret 2019 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Hari. Ia bisa mengayuh sepeda lagi. Ia turut serta dalam Herbana Bromo KOM Challenge 2019. ”Saya finis kedelapan kalau tidak kesembilan. Lupa saya tepatnya,” aku Hari.

Di event itu ia lalu bertemu dengan Guntur Priambodo, bos Banyuwangi Road Cycling Community (BRCC). Guntur mengajak Hari bergabung BRCC.

Tawaran itu langsung ia terima. Hari sangat bersyukur karena masih ada tim yang berminat menggunakan tenaganya. Apalagi, ia baru pulih dari cedera. Selain itu, usianya tak lagi muda. 34 tahun.

Setelah itu, tekad Hari untuk kembali ke ajang profesional semakin besar. Agustus 2019, Hari mengikuti balapan nomor satu di negeri ini, Tour de Indonesia. Hari dipercaya untuk memperkuat tim nasional Indonesia. Ia berkolaborasi dengan Projo Waseso, Woro Fitrianto, Dealton Nur Arif Prayogo, dan Bernard Benyamin van Aert.

Hari menempati peringkat ke-35 dalam klasemen akhir. Walau pun gagal juara, keikutsertaan Hari membuat banyak kalangan terkejut. Termasuk dokter yang mengoperasi matanya. ”Dia kaget karena saya bisa berlomba lagi. Dia memberi semangat, dan meminta saya berhati-hati,” sebut Hari.

Hari Fitrianto dari BRCC (kanan) saat mengikuti International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2019

Sebulan setelah Tour de Indonesia, Hari bergeser ke ujung timur Pulau Jawa. Ia membela panji BRCC pada ajang International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2019. ”Sekarang mata kiri saya sudah normal. Cuma tulang belakang saja yang masih terasa nyeri saat dibuat balapan,” akunya.

Hari mengambil banyak pelajaran atas apa yang ia alami setahun terakhir. Ia seolah terlahir kembali. Kecelakaan itu membuatnya semakin dewasa. Semakin bijak. Ia juga rajin bersyukur. Bersyukur karena masih bisa berkumpul dengan orang-orang terkasih. Bersyukur masih bisa berlomba lagi. (*)

 

Prestasi Hari ”Kacong” Fitrianto

- Peringkat kelima klasemen umum Tour de Indonesia 2008

- Peringkat kelima klasemen umum Jelajah Negeri Sembilan 2008

- Peringkat keenam klasemen umum Tour de Indonesia 2010

- Peringkat ketiga klasemen umum Tour de East Java 2010

- Peringkat kelima klasemen umum International Tour de Banyuwangi Ijen 2012

- Peringkat keempat klasemen umum Tour de East Java 2012

- Peringkat kedua klasemen umum Tour de Jakarta 2012

- Peringkat kedua klasemen umum Tour de East Java 2013

- Peringkat kedua klasemen umum Tour of Borneo 2015

- Peringkat keempat klasemen umum Jelajah Malaysia 2017


COMMENTS