STORY: My and My Bike (35)
Vidi Taklukkan Paris-Brest-Paris dengan Sepeda Bambu Spedagi
by - August 14, 2019

Vidi Widyastomo sangat menyukai tantangan, endurance, dan selalu ingin break the limit. Dalam hal bersepeda terutama perjalanan panjang dan lama. Penggila gowes jarak jauh ini kerap melakukan gowes mudik dari Jakarta ke Jogjakarta sekitar 550 km sejak 2013.

“Saya mencoba gowes mudik Jakarta ke Malang dengan jarak 800 km sendirian di tahun 2018,” bukanya. Kadang gowes mudik ini dilakukan ramai-ramai bersama komunitas B2W (Bike to Work), tapi kadang Vidi melakukannya sendiri.

Sepeda yang digunakan Vidi untuk gowes mudik inipun macam-macam. Pertama kali gowes mudik ke Jogjakarta tahun 2013 menggunakan mountain bike Cannondale. Lalu beberapa kali gowes mudik menggunakan Federal tipe City Cat. “Gowes mudik ke Malang tahun 2018 pakai sepeda turing Surly Straggler,” tukas pria kelahiran 1974 ini.

Keseharian Vidi tak lepas dari sepeda. Setiap hari, dirinya gowes dari rumahnya di kawasan Cibubur Jakarta Timur menuju kantor sejauh 40 km pergi pulang. Ditambah tiap weekend, pasti Vidi tidak dapat ditemukan di rumah.

Gowes ke arah Bogor yakni menjelajahi Gunung Salak, Gunung Bunder, dan perkebunan teh Gunung Mas. “Itu rute dengan mountain bike. Tapi jika saya menggunakan road bike, saya biasanya gowes jarak jauh ke Bandung, Sukabumi, atau Purwakarta,” bilang Vidi.

Mencoba tantangan baru. Tahun 2018, Vidi menyelesaikan Audax 200 km di Batam, 300 km di Purwokerto, 400 km di Bali, dan 600 km di Solo. “Perjalanan jarak jauh ini saya ditemani sepeda Surly Straggler,” bilangnya.

Tahun 2019, Vidi menemukan “mainan” baru. Yakni sepeda bambu. Vidi berkenalan dengan Singgih. S. Kartono, pemilik dan pembuat sepeda custom berbahan bambu merek Spedagi. Workshopnya ada di Temanggung, Jawa Tengah.

Pria lulusan ITB ini menggandeng Vidi untuk mencoba Spedagi tipe Rodacilik (mini velo). Vidi sangat gembira, apalagi Spedagi ini bisa dibuat sesuai dengan postur tubuhnya.

Setelah Spedagi Rodacilik di tangannya, mulailah petualangan Vidi dengan sepeda bambu made in Indonesia ini. Audax 200 km di Jakarta diselesaikannya bulan Januari 2019, lantas bulan Februari di Surabaya Vidi melakukan Audax 300 km, dilanjutkan bulan Maret gowes Audax 400 km di Solo. Dan terakhir, bulan April, Vidi menyelesaikan gowes Audax 600 km di Jogjakarta.

“Semuanya saya lakukan bersama Spedagi Rodacilik berbahan bambu itu. Sama sekali tidak ada masalah. Bahkan sangat nyaman menurut saya. Dan saya kagum dengan kualitas bambunya. Menurut Singgih, Spedagi Rodacilik ini sudah diakui oleh badan pengujian standar Jepang, JVIA (Japan Vehicle Inspection Association),” bangga Vidi yang juga kerap melakukan latihan jogging.

Dua tahun lulus Audax ratusan kilometer, menjadi “tiket” Vidi untuk mengikuti even impiannya. Yakni even besar khusus penggemar endurance, Paris-Brest-Paris (PBP).

Tidak sembarangan orang bisa mengikuti even ini, pun tidak sembarang waktu bisa ikut. PBP diadakan empat tahun sekali. Dan tahun ini, digelar mulai 18 – 22 Agustus dan menempuh jarak 1.200 km.

Kali ini, Vidi tidak menggunakan Spedagi Rodacilik. Tapi Singgih menyediakan Spedagi tipe Dalanrata yaitu sepeda road bike dengan ban 700c. Vidi mengaku tidak rewel, dia hanya meminta panjang top tube 52 cm dan tinggi seat tube 50 cm. Komponen yang dipasang tidak neko-neko, asal kuat dan bisa diajak turing jauh.

Shifter, FD, crank 50/34 menggunakan Shimano 105 dipadukan RD Shimano XT Rapid dan sproket 11/36. “Rem cukup mekanis Avid BB7,” tuturnya.

Karena PBP ini sifatnya turing, jadi tidak ada kompetisi. Yang ada hanya cut off time. Dan COT-nya adalah 90 jam. Dan total dibagi menjadi 15 pitstop. Jarak setiap pitstop bervariasi antara 75 km hingga 100 km.

Panitia menyediakan sarana untuk mandi, istirahat, dan makan di setiap pitstop. “Target saya hanya finis sebelum COT. Saya akan jaga kecepatan rata-rata saya di 20 km/jam. Apabila saya mengantuk, saya akan tidur maksimal 30 menit di pitstop. Saya juga akan disiplin makan di atas sepeda untuk menghemat waktu,” tekad pria yang hobi gowes sejak 1992 ini.

Yang paling dikhawatirkan Vidi adalah cuaca panas di siang hari mencapai 42 derajat dan berubah dingin di malam hari hingga di bawah 20 derajat. “Bahkan kadang hujan deras dan angin kencang,” keluhnya.

Vidi-pun mempersiapkan diri dengan gowes malam hari menanjak agar tubuh terbiasa dengan hawa dingin. “Ini adalah pencapaian terbesar saya dalam hidup apabila saya dapat menyelesaikan even turing akbar yang digelar sejak 1891 ini. Mohon doa restunya agar saya dan 13 peserta lain dari Indonesia dapat finis strong!” tutup Vidi yang akan mengupdate perjalanannya di instagram pribadi @vwidyastomo ini. (yudy hananta)

 


COMMENTS