Union Cycliste Internationale (UCI) mendesak penerapan sistem pelacakan keselamatan berbasis GPS di seluruh balapan sepeda profesional sesegera mungkin. Langkah tersebut diambil setelah meninggalnya pembalap muda Finlay Tarling dalam kecelakaan pada Volta a Portugal pada 14 Agustus 2026 lalu.
Finlay Tarling, pembalap berusia 19 tahun, meninggal dunia setelah tertabrak kendaraan non-balapan ketika tertinggal dari bagian belakang peloton. Tragedi tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap standar keselamatan dalam balap sepeda profesional.
Isu keselamatan menjadi pembahasan utama dalam pertemuan Professional Cycling Council (PCC) yang digelar di markas UCI di Aigle, Swiss. Pertemuan tersebut dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari balap sepeda jalan raya putra dan putri.
Dalam pernyataan resminya, UCI menyebut sebagian besar agenda pertemuan difokuskan pada keselamatan pembalap, khususnya penerapan sistem pelacakan GPS secara real-time.
"Dalam ketiadaan proposal bersama dari berbagai kelompok pemangku kepentingan, UCI menekankan kebutuhan mendesak untuk menerapkan, sesegera mungkin, sistem keselamatan khusus yang memungkinkan pelacakan posisi pembalap dan kendaraan secara real-time di seluruh ajang balap sepeda profesional, dimulai dari UCI WorldTour dan UCI Women's WorldTour," tulis UCI.
UCI menegaskan bahwa keselamatan pembalap harus menjadi prioritas utama. Organisasi tersebut berencana menyusun protokol serta kerangka regulasi terkait penggunaan sistem pelacakan real-time dalam balapan.
"Karena keselamatan tetap menjadi prioritas mutlak, UCI akan menetapkan protokol dan kerangka regulasi untuk penggunaan sistem pelacakan real-time dalam balapan," lanjut pernyataan tersebut.
David Lappartient Presiden UCI juga meminta seluruh pihak mengesampingkan perbedaan pandangan demi meningkatkan keselamatan pembalap.
"Keselamatan pembalap menuntut hal itu, dan keselamatan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan komersial," terang Lappartient.
Dorongan penggunaan teknologi pelacakan juga dipengaruhi sejumlah insiden tragis dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Kejuaraan Dunia Balap Sepeda Jalan Raya 2025 di Kigali, Rwanda, UCI telah menggunakan sistem pelacakan keselamatan. Sistem tersebut diterapkan setelah meninggalnya pembalap junior Swiss, Muriel Furrer, pada Kejuaraan Dunia 2024.
Furrer mengalami kecelakaan dalam lomba junior putri di Swiss, tetapi baru ditemukan 82 menit kemudian.
Menurut UCI, sistem GPS memungkinkan pemantauan posisi pembalap secara langsung dan dapat mendeteksi situasi tidak biasa, seperti pembalap yang tiba-tiba berhenti di lintasan.
"Dalam kasus seperti itu, posisi tepat pembalap akan dikirimkan kepada pihak terkait di konvoi balapan, termasuk penyelenggara, komisaris UCI, tim medis, dan petugas keamanan sehingga tindakan yang tepat dapat segera dilakukan," jelas UCI.
Tour de Suisse menjadi salah satu pelopor penggunaan teknologi tersebut pada tahun lalu. Direktur Balapan Tour de Suisse Olivier Senn mengatakan, sistem itu memang tidak dapat sepenuhnya mencegah kecelakaan, tetapi dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan.
"Kami tidak dapat sepenuhnya mencegah kecelakaan dengan langkah-langkah ini, tetapi kami melakukan segala hal agar semua informasi tersedia bagi tim dan konsekuensinya bisa diminimalkan," ujar Senn.
Meski demikian, penggunaan perangkat pelacak sempat memicu kontroversi. Pada Tour de Romandie Putri 2025, lima tim didiskualifikasi setelah menolak mengikuti uji coba perangkat GPS. Saat itu, tim diminta menunjuk satu pembalap untuk menggunakan alat pelacak, tetapi mereka menolak karena tidak menyetujui kewajiban penggunaan perangkat tersebut. (mainsepeda)