Kategori Women Elite Bromo KOM 2026 menghadirkan pemenang yang sulit disentuh pesaingnya. Dewika Mulya Sova tampil dominan dan sukses menaklukkan tanjakan Wonokitri untuk meraih gelar juara, setelah setahun absen dari event yang dijuluki "naik hajinya cyclist" tersebut.
Pembalap asal Jawa Barat itu memang tak terbendung. Sekitar 9 hingga 10 kilometer setelah Start KOM di Pasrepan, ia berhasil melepaskan diri dari rombongan terdepan. Sejak saat itu tidak ada lagi pembalap yang mampu menempel kecepatan perempuang yang akrab disapa Ocha itu.
Meski terlihat nyaman dari luar, Dewika mengaku sempat menghadapi masalah saat memimpin balapan.
"Sempat kram. Jadi setelah itu saya lebih menjaga pace supaya tidak drop," ujar Ocha.
Strategi tersebut terbukti berhasil. Dewika finis sebagai juara. Meski sempat kram namun ia tetap meninggalkan jauh lawannya. Ia berhasil finis dengan selisih waktu sekitar tujuh menit dari pesaing terdekatnya.
Dewika Mulya Sova memasuki finis Bromo KOM 2026 dengan selisih 7 menit atas lawan-lawannya meski sempat kram. Ini kali kedua dia menjuarai Bromo KOM.
Ocha berhasil menyentuh garis finis dengan catatan waktu 1 jam 40 menit 7 detik. Sementara pesaing terdekatnya, Maghfirotika Marenda, finis kedua dengan catatan waktu 1 jam 47 menit 43 detik.
Menariknya, catatan waktu Dewika justru lebih lambat dibanding saat dirinya menjuarai Bromo KOM X (edisi ke-10, tahun 2024). Saat itu Ocha mencatatkan waktu 1 jam 37 menit 56 detik.
"Menurut saya hal ini karena permainannya juga berbeda. Tahun ini saya lebih menjaga ritme karena kondisinya memang berbeda," katanya.
Meski demikian, ia tetap puas dengan performanya. Bagi Ocha, kemenangan ini terasa spesial. Sebab tahun lalu ia tidak bisa mengikuti Bromo KOM karena sedang menjalani kontrak bersama tim kontinental di Swiss. Selama berada di Eropa, dia fokus menjalani program latihan dan balapan.
Kini, Bromo KOM menjadi bagian penting dari persiapannya menuju agenda yang lebih besar. Ya, Ocha memang sedang mempersiapkan diri untuk seleksi tim nasional menuju Asian Games 2026. Selain itu pada 18 Juni nanti dia mengikuti National Championship di Pangandaran.
"Dari Bromo KOM ini saya bisa mengevaluasi latihan beberapa bulan terakhir, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri," jelasnya.
Di belakang Ocha, persaingan memperebutkan posisi kedua berlangsung tidak kalah menarik.
Maghfirotika Marenda harus puas di posisi kedua Bromo KOM 2026. Ratu Mainsepeda Trilogy itu mengaku salah strategi di awal.
Maghfirotika harus puas finis sebagai runner-up. Padahal ia adalah juara bertahan Bromo KOM 2025. Tak hanya itu, tahun lalu Maghfirotika juga dinobatkan sebagai "Ratu" Mainsepeda Trilogy. Ia berhasil bertengger di puncak klasemen umum Mainsepeda Trilogy (yang memperlombakan Bromo KOM, Dholo KOM, dan Ijen KOM).
Maghfirotika mengakui performanya tahun ini belum maksimal. Penyebab utamanya adalah kesalahan strategi di awal tanjakan.
"Saya terlalu nge-push di awal. Terlalu ambisius, akhirnya drop sendiri," katanya.
Saat mendapatkan informasi bahwa jaraknya dengan Dewika sudah terpaut dua hingga tiga menit, ia mulai fokus mempertahankan ritme sendiri hingga finis.
"Saya sebenarnya ingin hasil yang lebih baik. Sepertinya memang latihan saya masih kurang," tambahnya.
Sementara itu, podium ketiga menjadi milik Syahla Syafiah. Ia mengaku balapan sudah berjalan berat sejak kilometer-kilometer awal karena Dewika langsung melakukan serangan.
"Dari awal sudah di-attack Mbak Ocha," ujarnya.
Ia sempat berada dalam grup berisi lima pembalap yang mencoba melakukan pengejaran. Namun satu per satu mulai tertinggal dari Ocha hingga memasuki kilometer ke-15.
Tantangan tidak berhenti di situ. Menjelang finis, Syahla mulai merasakan kram dan sempat kehabisan minuman.
"Habis Pendopo kaki sudah mulai kram. Minum juga sempat habis, tapi saya tidak berhenti," katanya.
Awalnya Syahla berencana mengikuti roda pembalap yang berada di posisi pertama dan kedua. Namun setelah menyadari keduanya terlalu kuat, targetnya berubah.
Syalha Safiah akhirnya berhasil naik podium di Bromo KOM 2026. Meski sempat kram, dia berhasil menjaga pace dan finis di posisi ketiga.
"Saya fokus menjaga podium saja. Karena sempat juga hampir dikejar pembalap di belakang," ujarnya.
Hasil ini menjadi podium pertama Syahla di Bromo KOM, setelah sebelumnya ia finis keempat pada 2024. Lalu gagal naik podium pada 2025.
"Kalau melihat lawannya, saya puas dengan hasil ini. Menurut saya ini sudah pencapaian yang bagus," kata Syahla yang finis dengan catatan waktu 1 jam, 50 menit, dan 24 detik.
Di luar ketiga pembalap itu, posisi keempat dan kelima kategori Woman Elite Bromo KOM 2026 diisi oleh Cherlyn Novyta Sari dan Crismonita Dwi Putri.
Bagi Dewika, Maghfirotika, maupun Syahla, Bromo KOM bukan sekadar perlombaan menuju Wonokitri. Event ini juga menjadi tolok ukur penting untuk mengukur hasil latihan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi agenda-agenda yang lebih besar.
Di tengah semakin minimnya ajang balap yang mampu menghadirkan atmosfer kompetitif sekaligus tantangan medan yang berat, Bromo KOM tetap menjadi salah satu panggung penting bagi para atlet untuk menguji kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan mengejar prestasi yang lebih tinggi.(Mainsepeda)