Memasuki penyelenggaraan tahun ke-12, Bromo KOM masih memiliki daya tarik yang sama kuatnya: memancing rasa penasaran! Tak hanya bagi peserta lama yang selalu kembali setiap tahun, tetapi juga para debutan yang rela datang dari berbagai daerah demi merasakan langsung tanjakan Wonokitri yang legendaris. Meskipun belakangan frasa "in this economy" sering muncul untuk menggambarkan situasi ekonomi yang tidak mudah.

Tahun ini, sebanyak 1.000 cyclist dari 319 komunitas, 121 kota, 26 provinsi, dan 14 negara akan ambil bagian dalam Bromo KOM 2026. Di antara mereka, banyak yang akhirnya memutuskan datang setelah bertahun-tahun hanya mendengar cerita tentang "naik hajinya cyclist" tersebut.

Salah satunya adalah Axel Silas. Pemuda berusia 27 tahun asal Gorontalo itu datang seorang diri ke Surabaya untuk menjalani debutnya di Bromo KOM.

“Sudah lama saya mengikuti berita-berita Mainsepeda di Instagram. Dari situ jadi ingin ikut,” kata Axel saat pengambilan race pack collection (RPC) di Surabaya Town Square (Sutos), Kamis, 4 Juni 2026.

Sebelumnya, Axel pernah mengikuti Sulut KOM yang juga digelar Mainsepeda pada 2022. Event sport tourism itu mengajak peserta menikmati rute spektakuler di kawasan Manado, Minahasa, hingga Danau Tondano.

Setelah mengikuti Sulut KOM, aktivitas bersepedanya sempat meredup. Ia tak lagi aktif mengikuti event-event sepeda. Baru tahun inilah Axel merasa waktunya tepat untuk mencoba tantangan yang selama ini hanya ia lihat dari media sosial.

Baginya, Bromo KOM memiliki daya tarik tersendiri. Perpaduan tanjakan legendaris Wonokitri dan lanskap kawasan Bromo menjadi alasan utama.

“Itu daya tarik utamanya. Di Sulut KOM saja event-nya bagus. Apalagi di sini,” ujarnya.

Sebagai debutan, Axel berlatih sendiri setiap hari tanpa tim maupun komunitas yang mendampingi. Menurutnya, karakter jalan di Gorontalo lebih banyak berupa rolling terrain dengan tanjakan yang tidak sepanjang Bromo.

Karena itu, tanjakan Wonokitri sepanjang 24,6 kilometer menjadi tantangan yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.

“Jujur, tanjakan Bromo ini ngeri. Pokoknya yang penting under COT saja. Santai-santai,” kata Axel yang turun di kategori Men 29 and Under.


Axel Silas debutan di Bromo KOM 2026, tapi ia pernah ikut event Mainsepeda lainnya, Sulut KOM.

Meski begitu, ia tetap memiliki bekal pengalaman menanjak. Axel pernah menempuh rute sejauh 18 kilometer dengan elevasi sekitar 1.000 meter saat bersepeda di Sulawesi Utara.

Pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa Bromo KOM akan menjadi ujian mental yang sesungguhnya.

“Tapi kalau orang Jakarta bisa menaklukkan Bromo KOM, berarti saya juga bisa. Yang penting ikut dulu,” tuturnya.

Cerita serupa datang dari Ketut Hermawan. Pesepeda asal Bandung berusia 53 tahun itu sebenarnya sudah lama akrab dengan tanjakan. Sejak 2019, ia rutin menjajal berbagai rute menanjak di Jawa Barat.

Namun, setiap tahun ia mengaku terusik oleh Bromo KOM. Rasa penasaran itu terus muncul. Baru tahun inilah ia akhirnya berani mendaftar.

“Rasa penasaran itu yang mendorong saya mendaftar. Saya ingin merasakan langsung atmosfer event terbesar di Indonesia, naik hajinya para cyclist,” katanya.

Ketut mengaku selama ini rutin mengikuti podcast Mainsepeda dan membaca berbagai cerita tentang para finisher Bromo KOM.

“Event ini menurut saya yang terbesar. Dari jumlah peserta sampai impact-nya,” ujarnya.

Bagi Ketut, Bromo KOM bukan sekadar perlombaan. Ia ingin merasakan sendiri seperti apa rasanya menaklukkan tanjakan Wonokitri yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang lain.

Motivasi itu semakin kuat setelah melihat banyak pesepeda senior di Bandung yang tetap mampu menaklukkan tanjakan di usia lebih dari 60 tahun.

“Umur itu hanya angka. Yang penting bagaimana kita menjaga kesehatan tubuh,” kata Ketut yang turun di kategori Men 50-54.

Soal target, Ketut tidak muluk-muluk.

“Targetnya cukup finis bahagia, sehat, dan tentu saja finis under COT,” ujar salah satu manajer di Kantor Pos tersebut.


Ketut Hermawan usai mengambil race pack collection Bromo KOM 2026.

Debutan lainnya datang dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Nanoek Dwiyuliawan tidak datang sendirian. Ia membawa total 25 cyclist yang berasal dari dua komunitas, yakni Sepeda Balap Kupang (SBK) dan Kupang Road Cycling (KRC).

“Teman-teman komunitas sepakat mencoba tantangan yang disebut sebagai event sepeda terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Bagi Nanoek, alasan mengikuti Bromo KOM bukan sekadar lomba. Ia menyebut event ini sebagai level tertinggi yang ingin dicoba seorang cyclist Indonesia.

Rasa penasaran terhadap tanjakan Wonokitri menjadi alasan utama.

“Dari elevasinya saja sudah hampir 2.000 meter. Berat, tapi justru itu yang membuat kami ingin mencoba,” ungkapnya.

Selain tantangan, kebersamaan menjadi alasan lain yang membuat komunitasnya berangkat ke Bromo KOM.

“Kami ingin merasakan sama-sama. Walaupun sakit, tetap harus dicoba. Itu akan menjadi pengalaman berharga,” katanya.

Persiapan menuju Bromo KOM sudah dilakukan selama tiga bulan. Mereka rutin berlatih di rute-rute tanjakan di Kupang dengan elevasi hingga 1.700 meter.

Meski belum menyamai karakter Wonokitri, latihan tersebut dinilai cukup untuk membangun kepercayaan diri.

“Target kami sederhana. Bisa finis bersama, lolos under COT, dan pulang membawa cerita yang menyenangkan,” ujar Nanoek.


Nanoek Dwiyuliawan yang datang bersama rombongan besar para pesepeda asal Kupang.

Dua belas tahun sejak pertama kali digelar pada 2014, Bromo KOM terus menghadirkan cerita yang sama. Selalu ada peserta lama yang kembali karena ketagihan. Dan selalu ada peserta baru yang datang karena penasaran.

Tahun ini, Axel dari Gorontalo, Ketut dari Bandung, dan Nanoek dari Kupang menjadi bagian dari cerita tersebut. Mereka datang dengan alasan berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menaklukkan Wonokitri dan menuntaskan "naik hajinya" para cyclist.(mainsepeda)

Populer

Berburu Momen Terbaik di Bromo KOM 2026? Tenang, Puluhan Fotografer Siap Rekam Aksi Peserta
12 Tahun Bromo KOM, Tetap Melahirkan Debutan yang Penasaran Menaklukkan Wonokitri
In This Economy, Ternyata Ini Alasan Para Peserta Ketagihan Ikut Bromo KOM, Ada yang 12 Kali Ikut!
Kuat Berkat Indoor Training
Fernando Alonso Kecelakaan Saat Gowes di Swiss
Hiyaaaaa, Sudah Muncul Pinarello Dogma F12
Benarkah Ban 25 Mm Lebih Cepat dari 23 Mm?
Gravel Bike: Cepat On Road, Tangguh Off Road
De Rosa SK Pininfarina: Logo Baru, Frame Aero Baru
Wilier Zero SLR, Senjata Baru untuk Para Kambing Gunung