Rute East Java Journey (EJJ) 2026 benar-benar membuat para peserta kehabisan kata-kata. Karakteristik jalanannya sangat beragam membuat ultra cyclist berpengalaman pun geleng-geleng.
Prima Hasyim Karsidik sudah dua kali mengikuti event ultra empat digit sebelumnya: Audax 1.000 Km dan Peninsular Devide 1.500 Km di Malaysia. Namun, ia masih tertegun ketika mengikuti EJJ 2026 1.500 KM. Menurutnya, rutenya di luar nalar.
Dari tanjakan pertama di Jolotundo, Prima sudah mengalami kesulitan. Badannya seperti belum siap diajak nge-gas. Kakinya hampir kram, ingusnya pun sudah keluar. Hal ini membuat power-nya tidak maksimal. Ia yang biasanya bisa mencapai kecepatan 25-30 Km per jam di jalan flat, hanya mampu mengayuh sepedanya maksimal di angka 20 Km per jam ketika berada di Pantura.
Baca Juga: Pengalaman Serba Pertama Yusran Yahya di EJJ 2026, dari Rasakan Rute Terjauh Sampai Gempa
Tenaganya semakin habis ketika nanjak ke puncak Paltuding via Bondowoso. Bahkan ia sampai tertidur di pinggir jalan aspal, di tengah hutan pada malam hari akibat sudah kelelahan. Plan ride-nya pun molor. Dari awalnya target tiba di check point (CP) 1 pada Selasa dini hari, Prima baru sampai Paltuding pada 07.30 WIB.
Rencana bersepedanya semakin menjauh dari target karena ia beberapa kali kesiangan bangun. Tubuhnya memberikan sinyal untuk beristirahat lebih lama. Hal ini membuatnya merubah ride plan secara menyeluruh.
"Kondisi kurang fit sehingga tidak mungkin mengejar. Jadi saya ubah mode race ke mode piknik, kalau saya push takutnya malah DNF," ujar Prima.
Rasa keterkejutan cyclist asal Jakarta terhadap rute EJJ mulai bertambah saat mencicipi queen stage di JLS. Pengalaman Ultra di Malaysia seakan tidak berguna, karena perbedaan karakteristik rute yang jauh berbeda.
Tanjakan di Jawa Timur sangat tajam dengan kemiringan ekstrem. Rata-rata jalannya pun kurang mulus. Sementara di Malaysia, rute jalan lebih mulus dan tanjakannya manusiawi, meski elevation gain-nya mencapai 20 ribu meter. Di EJJ 2026 1.500 Km, total elevasinya sekitar 15 ribu meter.
"Di Pacitan itu kayak never ending climb. Tanjakannya nyegrek-nyegrek (tajam-tajam). Tanjakan 15 persen sudah pasti dorong dan sangat menguras energi," katanya.
Umpatan Prima menjadi-jadi pada segmen terakhir dari CP 3 menuju Surabaya. Ia mengira siksaan telah berakhir, tapi ekspektasinya ternyata jauh dari realitas.
"Kita sudah senang lewat jalan besar, eh dimasukin lagi ke kampung. Masuk hutan lagi, rollingan lagi, mau finis aja dinaikin dulu lewat jalan paving block. Sudah mana kena saddle sore dan makin sakit," ujarnya.
Meskipun demikian, cyclist 40 tahun itu mengaku puas mengikuti event EJJ 2026 1.500 Km. Ia sebenarnya finis jauh dari target awal: hari kelima atau keenam. Sebab Prima finis di hari terakhir, Minggu petang, 8 Februari 2026. Rekor waktunya 156 jam 5 menit.
Meskipun finis lewat dari target pribadi, tapi sebagai gantinya Prima bisa menikmati perjalanannya karena menerapkan mode piknik. Sepanjang jalan ia memang banyak meng-capture keindahan rute EJJ 2026. Selain itu, ia juga puas dengan fasilitas disediakan Mainsepeda.
Fasilitas lengkap yang disediakan panitia Mainsepeda memang selalu jadi nilai plus. Di lokasi check point misalnya, selalu ada fasilitas mekanik, fisio, dan kebutuhan suplai makanan dan minuman untuk peserta.
Cyclist perempuan asal Malang, Dyana Pitta Pratiwi, mengaku merasa aman ketika mengikuti event EJJ 2026 600 Km. Fasilitas yang lengkap di CP membuat perasaannya terhindar dari was-was. "Paling penting sih ada bike checking. Jadi waktu melanjutkan gowes gak was-was," ujar Dyana.
Perihal rutenya, cyclist 40 tahun itu juga merasa tertegun. Tantangannya sangat variatif untuk pemula seperti dirinya, meski segmen tanjakannya bisa ia atasi.
"Impresinya luar biasa, yang bikin rute edan. Bayangan 600 Km CoT 60 jam sangat berlebihan waktunya. Tapi dengan rute seperti itu rasanya yang bener saja CoT-nya segitu," tambahnya.
Sementara itu, Teuku Muhammad Guci Syaifudin, cyclist asal Yogyakarta, menyebut variasi rute EJJ 2026 600 Km tidak pernah ditemukan di kampung halamannya. "Super banget, Jogja gak ada mas. Unik. Suprises bener," ujar Guci.
Salah satu tanjakan yang paling membuatnya kesal adalah segmen setelah Pantai Sine. Jalan kemiringannya sangat ekstrem, hingga 30 persen. Dan, karakteristiknya aspal pecah.
"Mau gak mau nuntun karena tahu kemampuan pasti gak bisa," tuturnya.
Baca Juga:Para Remidial yang Akhirnya Sukses Raih Gelar Sarjana Ultra EJJ 2026
Di sisi lain, Dodik Sumare, cyclist asal Madiun. mengaku tidak sama sekali tersiksa dengan rute EJJ 2026 1.500 Km. Ia bahkan sengat menikmati perjalanannya. Dodik mengibaratkan dirinya kembali menjadi anak kecil yang tanpa beban selama lima hari di jalan.
"Tidak pernah menjumpai perasaan seperti ini lagi sebelum EJJ. Full bermain terus, full adrenalin. Sesuatu yang amazing sekali. Tidak mikir pekerjaan," kata cyclist 47 tahun itu dengan sumringah.
Ia benar-benar terbebas kehidupan dewasa. Smartphone-nya pun ia matikan selama perjalanan dan hanya dihidupkan ketika rehat. Itu pun hanya untuk mengamati race map.
EJJ 2026 merupakan event ultra cycling pertamanya. Dodik awalnya ingin ikut kategori 600 Km. Namun, latihan yang intens sejak Oktober tahun lalu membuatnya percaya diri menjajal full journey.
Persiapan yang benar-benar matang bahkan membuatnya sanggup mengunci posisi tiga besar kategori Men 40 and Up. Hal yang tidak pernah disangka sebelumnya. Sempat air matanya terurai karena ia tak menyangka bisa kompetitif. Ia awalnya menargetkan finish di hari terakhir, Minggu, 8 Februari. Namun, ternyata ia tiba di Sutos lebih cepat, rekor waktunya 4 hari 12 jam 55 menit.
"Di jalanan kebun Jagung di daerah Tuban. Sudah di kilometer 1.200-an. Kan sepi itu, saya menangis di situ, terharu. Masak saya bisa podium di usia segini. Masih diberi nikmat yang luar biasa sama Allah. Sungguh bersyukur sekali mas," tutupnya. (Mainsepeda)