Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) selalu digambarkan menduplikasi dengan salah satu landmark paling ikonik di Prancis, Arc de Triomphe. Memang terlihat identik. Dari bentuk bangunannya hingga halaman alun-alun yang membulat. 

Akan tetapi, Arc de Triomphe bukanlah pionir gaya arsitek yang sama. Desain Arc de Triomphe sejatinya mencontoh bangunan yang lebih tua lagi, yakni Monumen Arch of Titus. Struktur yang sudah ada sejak jaman Romawi Kuno. 

Bukan rahasia jika Napoleon Bonaparte sangat mengidolakan peninggalan-peninggalan Romawi. Tapi Napoleon tetap tak mau kalah. Meski mencontek dari Arch of Titus, tapi ia membangun Arc de Triomphe dengan lebih berkesan. Detilnya juga jauh lebih rumit.

BACA JUGA: Kuota Terpenuhi, 500 Peserta Bakal Ramaikan Kediri Dholo KOM 2024

Dimulai dari struktur bangunan yang lebih besar dan megah, Arc de Triomphe dibangun dengan tinggi 50 meter, sedangkan Arc of Titus hanya 35 meter saja. 

Pembangunan Arc de Triomphe sendiri dibangun oleh Napoleon pada 1806. Hanya dua tahun setelah ia menunjuk dirinya sendiri sebagai Kaisar dengan gelar Napoleon 1. Monumen itu dibangun juga untuk memperingati kemenangan Prancis dalam Pertempuran Austerlitz dan berbagai pertempuran besar lainnya termasuk Revolusi Prancis dan Perang Napoleon.

BACA JUGA: Seskab Pramono Anung Ikut Kediri Dholo KOM, Siap Hadapi Tanjakan Kelok 9 dan Gigi 1

Peniru Arch of Titus pun tak hanya Arc de Triomphe dan Monumen SLG saja. Di pusat kota Pyongyang di Korea Utara monumen yang hampir serupa juga berdiri. Namanya Arch of Triumph. Bahkan bangunan ini menjadi yang paling besar diantara gaya arsitektur Arch of Titus yang lain. 

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) di Kediri sendiri mulai dibangun pada tahun 2003 dan selesai lima tahun berselang. Pembangunan Monumen SLG awalnya diperuntukan sebagai pusat ekonomi baru di Kabupaten Kediri. Hal ini karena lokasinya berada di kawasan strategis. 

Monumen SLG memiliki luas total mencapai 804 meter persegi dengan tinggi bangunan mencapai 25 meter. Namun, angka-angka tersebut memiliki makna yang menggambarkan hari jadi Kabupaten Kediri, yaitu 25 Maret tahun 804 Masehi. 

Para peserta Kediri Dholo KOM saat melintasi Monumen Simpang Lima Gumul. 

Ada pula yang berpendapat bahwa Monumen SLG terinsipirasi dari impian Raja Jayabaya. Seorang raja dari Kerajaan Kediri di abad 12 yang ingin menyatukan lima wilayah di sekitar Kediri. Raja Jayabaya juga dikenal dengan ramalan Jongko Joyoboyo yang hingga hari ini masih banyak dipercaya.

Di tembok-tembok monumen terdapat relief yang menggambarkan tentang sejarah Kediri, beserta kesenian dan kebudayaannya. Di salah satu sudut tergambar pula Ganesha yang merupakan salah satu dewa pujaan sebagian besar umat hindu dengan gelar sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan, pelindung, penolak bala, dan dewa kebijaksanaan.

Event balap sepeda signature Mainsepeda Kediri Dholo KOM 2024 berkesempatan akan akan memulai start balapannya di bangunan Ikonik tersebut. Rencananya balapan yang digelar pada 14 Juli 2024 ini akan dimulai pukul 5.45 WIB. 

"Monumen SLG merupakan lokasi ikonik. Terima kasih kepada Pemkab Kediri mengizinkan Monumen SLB menjadi lokasi start Kediri Dholo KOM 2024," kata Donny Rahadian dari Mainsepeda.

Start di Monumen SLG menjadi yang pertama kali dilakukan. Tiga edisi sebelumnya, para peserta Kediri Dholo KOM hanya melewatinya. (Mainsepeda)

Populer

EJJ 2026: Akhirnya Zidan (Butuh) Tidur Juga
EJJ 2026: Lepas Aerobar sejak di Blitar, Zidan Makin Melesat Menuju Finis di Surabaya
EJJ 2026: Three-Peat! Zidan Raih Gelar ’Sarjana S3 Ultra'
EJJ 2026: Petualangan Bersepeda 1.500 km dari Timur ke Barat Dimulai!
EJJ 2026 - 600 Km: Cyclist Mix Prancis-Sunda Bawa Jimat Keberuntungan Multifungsi
EJJ 2026: Persaingan Sengit Podium Pair
EJJ 2026 - 600 Km: Target Finis 48 Jam, Muhammad Faris Andalkan Manajemen Body Clock
Unduh Rute Terbaru EJJ 2026 600 Km di Mainsepeda App!
EJJ 2026: Hanya Satu Peserta Gagal CoT di Cima Coppi
EJJ 2026: Dilema Bambang Hartana, antara ‘Tugas Negara’ dan Target Mengejar CoT di CP 2