Kolom Sehat: Mawar, Bukan Nama Sebenarnya

| Penulis : 

Dulu, ketika Anda membaca surat kabar, jika redaksi ingin mengisahkan seseorang tanpa menyebutkan identitas aslinya, maka mereka akan menyebutnya dengan "bondet" untuk laki-laki. Sedangkan untuk perempuan, disebut "bunga" atau "mawar". Kalau dalam Bahasa Inggris disebut John atau Jane Doe.

Itu sekilas soal latar belakang mawar yang identitasnya tidak ingin dipublikasikan. Namun kali ini saya tidak ingin menceritakan soal kriminalitas. Atau berita musibah sehingga saya harus mengganti nama korban atau pelakunya dengan "mawar". 

Mawar yang saya maksud di sini juga bukan pelantun lagu "Sedang Sayang Sayangnya". Bukan, mawar ini mawar dalam kamus istilah dunia sepeda. Paling tidak dalam dunia sepeda yang memagang paham "ride lots, eat lots more". Mawar ini singkatan dari mampir warung.

Ketika pertama kali mendengar istilah tersebut, saya juga salah mengartikan maknanya. Saya kira lawan bicara saya sedang membahas nama orang, ternyata bukan.

Yang membuat saya senang adalah semangat bersepeda dan makan itu ternyata tidak hanya terjadi pada saya dan orang-orang di sekitar saya. Ternyata di belahan Jawa Barat dan DKI Jakarta pun ada sekelompok pesepeda yang memegang teguh prinsip tersebut. Bahwa kalau bersepeda itu harus mampir warung.

Kok saya tahu? Karena saya bertemu dengan salah satu pesertanya. Nte Emilia namanya. Awalnya saya kira tukang jamu. Karena yang bersangkutan bilang kerjanya membuat obat. Lha pikir saya obat dan sepedaan. Saya kira ini keliling jual jamu dengan sepeda. Lengkap dengan toa plus musik yang keras.

Nte Emilia dan kelompoknya acap kali mampir warung atau kedai untuk "mengisi amunisi"

Tapi saya salah banget. Karena sebenarnya beliau adalah head of quality operations di perusahaan farmasi besar, wkwkwkwkwk. Dan Nte Emilia sekarang sudah memasuki masa pensiun. Jadi kegiatan bekerjanya semakin berkurang. Aktivitas sepedaannya jelas nambah.

Pas ketemuan, Nte Emilia cerita bahwa dia bersepeda keliling Cibubur. Hanya 40 kilometer. Tapi dia dan kelompoknya tiga kali berhenti untuk makan. Sangat bertolak belakang dengan teman teman saya.

Cerita Nte Emilia juga mirip dengan cerita-cerita saya. Ke mana-mana suka mencari kuliner dan menjajal rute. Kecepatan gowes itu nomor belakang. Yang penting sampai ke tujuan dengan selamat dan kenyang. Saya yakin banyak kelompok seperti ini di daerah lain di bumi Indonesia ini. Kali ini saya bertemu dengan salah satu anggotanya. Mungkin lain kali bisa bertemu dengan pesepeda lain dengan semangat yang sama.

Senda gurau dan saling mengisi ketika bercerita sesama pesepeda, tentunya membuat anggota grup ini semakin kental komunikasinya. Karena visi mereka sama. Semoga di kemudian hari saya bisa menemukan teman-teman sevisi seperti mereka. Sekian. (johnny ray)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 123

Foto: Chaidar, Dokumentasi Emilia Eka Damajanti

Populer

Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Vuelta a Espana 2026-Etape 15: Wout van Aert Menang Sprint di Córdoba
Pogacar Akhiri Musim Lebih Cepat, Pemulihan Cedera Jadi Prioritas
Zidan Nouval Juara Bentang Jawa 2026, Kawinkan Gelar Ultra-Cycling 1.500 Km
Tour de Surakarta Digelar 10 Oktober 2026, Siap-Siap Nikmati Keindahan dan Kenyamanan Solo
Dari Jawa Timur ke Bentang Jawa: EJJ Jadi Tempat Belajar Pegowes Ultra
Race Around Java: Sebanyak 45 Cyclist Ultra Jalani Petualangan 3.000 Km
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Mike Sinyard Kembali Jadi CEO Specialized Mulai November 2026
Race Around Java 2024: Cyclist Malaysia Ditawari Pemotor Dorong Sepeda di Tanjakan