Patricia bukan cyclist kemarin sore. Dia mengawali aktivitas sepedanya sejak 2007 lalu. Kala itu dia menerapkan bike to work. Jarak dari rumah ke kantornya memang dekat. Hanya 3 kilometer saja. Lalu lintas Jakarta yang padat, membuat Patricia memilih sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari.

Selama 15 tahun itu, Patricia gowes menggunakan sepeda gunung (MTB) dari kantor ke rumah. Kemudian pada tahun ini dia memutuskan untuk menjajal road bike. Tak disangka, wanita yang menjabat Deputi Direktur Laporan dan Standar Akuntansi DPNP di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini begitu cocok dengan tunggangan anyarnya.

"Kebetulan habis S2, jadi saya memiliki banyak waktu. Selain itu, pada saat itu masih WFH. Jadi, setiap pagi selalu ada waktu buat olahraga," bilang alumnus Universitas Sumatera Utara dan Tsinghua University tersebut.

Pada saat yang sama, Patricia yang sudah bekerja di OJK selama hampir sepuluh tahun tersebut, juga melakukan kampanye Taksonomi Hijau Indonesia. Dia memilih sepeda sebagai media kampanye karena ini merupakan aktivitas yang sudah melekat dengannya.

Dilansir laman resmi Kementrian Keuangan (Kemnkeu), Taksonomi Hijau adalah sistem klasifikasi yang menetapkan daftar kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan. Dengan kata lain, klasifikasi berdasarkan kegiatan usaha yang mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup dan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim.

Selain mulai beralih ke road bike, 2022 juga menjadi debut Patricia di Bentang Jawa. Meski menjadi event ultra cycling pertamanya, Patricia tidak merasa canggung. Justru dia menjadikan perjalanannya di event ini untuk mengampanyekan Taksonomi Hijau Indonesia.

Patricia mengaku melakukan persiapan yang begitu matang untuk menghadapi Bentang Jawa 2022. Salah satunya dengan menerapkan program latihan dari koleganya, Dzaki Wardana. Dzaki merupakan pemenang dua edisi terakhir gelaran ini.

"Saya minta program latihan dari Dzaki. Program itu membuat saya makin mantap memakai road bike. Dari sana saya sudah menemukan rasa senang bersepeda. Juga merasa bahwa long ride itu cocok buat saya," ungkapnya.

Program latihan dari Dzaki membuat intensitas latihannya meningkat. Biasanya, Patricia menyelesaikan jarak 300 kilometer per bulan. Selama masa persiapan menuju Bentang Jawa itu, Patricia menempuh jarak kurang lebih 400 kilometer dalam satu pekan.

"Endurance makin naik. Respons tubuh juga bagus. Dikasih program latihan yang semakin meningkat, fitness level semakin naik. Tidak gampang capek seperti dulu pada awal-awal latihan," aku istri Hendra Siswanto, pelari ultra marathon Indonesia itu.

Usai Bentang Jawa rutinitas gowes Patricia tetap berlanjut. Baik itu untuk latihan maupun bike to work. Sehari rata-rata Patricia menempuh jarak 50 kilometer. Jika tidak sempat bersepeda, Patricia menggantinya dengan lari 10 kilometer pada sore hari.

"Kebetulan saya dan suami punya klub lari yang terdiri dari orang-orang 'gila'," katanya seraya tertawa. "Ketika memutuskan ikut Bentang Jawa, sebenarnya itu bukan sesuatu yang asing. Padahal saya ikut Audax saja belum pernah saat itu," imbuh Patricia.

Patricia menambahkan, dia memiliki konsep bahwa race itu adalah perayaan dari hasil latihan. Jadi, dia bersyukur karena program latihan dari Dzaki berjalan bagus. Hasilnya pun memuaskan. Patricia mengaku tidak pernah kram di Bentang Jawa 2022 lalu.

"Selain itu juga ada kampanye Taksonomi Hijau. Sehingga saya makin bersemangat menyelesaikan tantangan ini," imbuh Patricia.

Untuk event berikutnya Patricia menjadi salah satu dari cyclist untuk Lombok Charity Ride. Dalam event yang digagas Green Fly Cycling Community itu, Patricia akan bersepeda dari Jakarta ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Total jaraknya 1500 kilometer. Mereka akan mengumpulkan donasi untuk 1500 guru. (mainsepeda)

Podcast Mainsepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 120

Foto: Dokumentasi Patricia


COMMENTS