Kolom Sehat: Don't Rich People Difficult (E-Bike)

| Penulis : 

Bingung baca judul di atas? Sabar! Bagi yang merasa rich atau pandai berbahasa Inggris, sabar ya. Judul di atas adalah percobaan terjemahan dari jargon yang sudah biasa diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu: "Jangan kaya orang susah."

Menerjemahkan kata-kata bahasa Indonesia ke Inggris secara ngawur seperti ini pasti membuat risih orang yang paham Bahasa Inggris. Salah satunya Om Aza yang nilai TOEFL-nya.... (semoga tidak dihapus tulisan ini, wkwkwk).

Judul di atas juga tidak berusaha menyudutkan orang rich. Ini hanya terjemahan asal iseng.

Bersanding dengan Brompton Electric pada awal 2019

Ketika menerjemahkan sesuatu, harus dilihat makna keseluruhannya, baru bisa diterjemahkan dengan tepat. Menerjemahkan sepenggal-sepenggal bisa membuat orang salah paham. Dan menciptakan kalimat yang artinya jauh dari apa yang dimaksud.

Kata "rich" memang bisa berarti "kaya," dalam arti orang yang memiliki banyak harta. Lalu, hubungannya dengan sepeda apa?

Begini pembaca. Dengan melihat contoh di atas, kita tahu Bahasa Indonesia itu beda dengan Inggris. Penggunaanya pun harus memahami struktur bahasa selain menghafalkan artinya. Sama dengan sepeda.

Menjajal Brompton Electric di markas Brompton di London, Inggris

Saya masih tergelitik dengan topik podcast saya terbaru bersama Om Aza di channel YouTube Mainsepeda. Yaitu soal e-bike. Karena ternyata, e-bike itu tidak bisa dipakai dicampur adukkan tanpa mengerti aturannya, peruntukannya, dan etiketnya.

Tujuan utama e-bike adalah untuk transportasi. Bukan untuk ikut-ikutan berpeloton dengan sepeda balap normal. 

E-bike juga banyak dibuat untuk para lansia dan orang-orang yang butuh bantuan dalam hal kemampuan fisik. Meski batas usia "sudah tua" itu bisa sangat beda-beda. Setelah podcast itu, Bu Laksmi tanya ke saya mengenai batasan umur ini. Beliau tidak mau dikatakan tua. Dia merasa bersepeda tanpa motor itu olahraga yang menyehatkan. Apalagi ketika tahu e-bike ada speed limiter-nya, beliau bilang kalau hanya 30-40 an km per jam dia masih mampu.

Di kelompok saya, legenda bernama Ko Hay juga sudah berumur lebih dari 70 tahun, dan dia masih sangat sanggup gowes tanpa bantuan motor. Bahkan, yang muda mungkin butuh motor untuk mengejarnya!

Ada yang bilang, tua itu hanya angka. Walau di sisi lain, ada banyak orang muda yang secara kemampuan tubuh sama sekali tidak seperti orang muda!

Contoh-contoh di atas memang cukup ekstrem. Orang berusia lanjut yang masih aktif berolahraga. Bu Laksmi itu bahkan mengaku baru bersepeda di masa pandemi ini.

Bagi yang muda, mari kita semangat untuk tetap sehat. Siapa tahu kelak bisa meniru kedua orang di atas. Terus berolahraga sampai lanjut usia. Dan selama saya sehat, maka saya akan merasa malu bila berolahraga dengan e-bike. Saya dulu pernah berpikir seperti itu, sekarang sudah tidak lagi mau.

Kalau Anda ngotot ingin ber-e-bike-ria, juga tidak apa-apa. Selama Anda mengerti bahwa alat ini digunakan untuk membantu membuat bumi lebih hijau.

Tetaplah bersepeda. Bila tidak bisa mengejar teman, maka berlatihlah dengan giat. Jangan lantas justru mencoba mengejar menggunakan e-bike! (johnny ray)

Podcast Main Sepeda Bareng AZA x Johnny Ray Episode 37

Audionya bisa didengarkan di sini

Foto: @motretsport 

Populer

Banyuwangi Bluefire Ijen KOM 2025: Kapal Cepat Ramah Pesepeda, Makin Mudah ke Banyuwangi
Vuelta a Espana 2025, Etape 7: Juan Ayuso Belum Habis!
Bentang Jawa 2025: 181 Peserta, 47 DNF, Rekor 119 Finisher!
Beri Multiplier Effect, Pemkab Banyuwangi Dukung Bluefire Ijen KOM 2025
Tour de Surakarta 2025: Paket Khusus Komunitas Jelang Akhir Pendaftaran
Bentang Jawa 2025: Stephen Lane Juara! Pecah Rekor Finish Under 78 Jam
Renewi Tour 2025, Etape 3: Berjaya di Finish Cobble, MVDP Gagal Rebut GC
Tips Memilih Lebar Handlebar yang Ideal
Kediri Dholo KOM 2025: Pemenang Baru dan Langganan Juara di Men Category
Tour de Pologne 2025, Etape 6: Langellotti Pecah Telur Kemenangan WorldTour Setelah 14 Tahun