Ada apa dengan Simon Yates? Pada dua pekan pertama Giro d’Italia 2018, pembalap Mitchelton-Scott itu begitu perkasa. Memenangi tiga etape, plus “mengalah” pada rekan sendiri di satu etape lain. Saking kuatnya, selama 13 hari lamanya Yates memimpin lomba, mengenakan maglia rosa (pink jersey).

Tapi, pada Etape 19 Jumat, 25 Mei, Yates berantakan. Bukan hanya kendur, dia seperti “menghilang”! Tertinggal sejak tengah etape, dan akhirnya hanya bisa finis 38 menit di belakang sang juara etape, Chris Froome (Team Sky). Dari peringkat puncak general classification (GC), dia melorot ke urutan 17 tanpa punya peluang jadi juara.

Ditanya soal itu, pembalap Inggris berusia 25 tahun itu tak punya jawaban rumit. Dia lelah. Dia sangat lelah. Dia masih belum sanggup menjaga performa dalam sebuah grand tour yang panjangnya tiga pekan.

“Saya hanya benar-benar lelah, benar-benar habis. Inilah balap sepeda. Itu saja alasan saya,” ucapnya usai finis di Monte Jafferau, Jumat menyakitkan itu.

Simon Yates (Mitchelton-Scott), berjersey pink, hanya mampu finis 38 menit di belakang Chris Froome.

Menurut Yates, dia tiba-tiba “gembos” di kaki tanjakan Colle delle Finestre, tempat Froome melakukan attack jarak jauh. Setelah itu, dia hanya bisa bertahan untuk mencapai garis finis.

Yates menambahkan, dia sebenarnya sudah mulai lelah sejak etape time trial, yaitu Etape 16, Selasa lalu (22 Mei). Waktu itu, dia mati-matian mengejar waktu, supaya tidak disalip oleh Tom Dumoulin (Team Sunweb) di puncak klasemen.

“Sejak time trial, saya tidak bisa benar-benar pulih. Sejak saat itu, saya sebenarnya pasang wajah poker, mencoba bertahan sedikit demi sedikit,” ungkapnya.

Para pesaing mulai mengendus kelemahan saat Yates tak mampu menempel di km-km akhir Etape 18. Dan pada Etape 19, Yates benar-benar hancur.

Sekarang, Yates hanya bisa berjuang menuntaskan Giro d’Italia 2018 yang masih menyisakan dua etape. Setelah itu dia berjanji akan kembali mengejar juara lagi.

Bagaimana pun, dia bangga bisa meraih hasil seperti tahun ini. “Saya tidak punya penyesalan. Di awal Giro, tak ada yang menjagokan saya untuk menjadi juara. Saya sangat bangga atas apa yang sudah saya capai. Tentu saya kecewa mengalami kekalahan. Tapi saya akan kembali. Saya berharap bisa kembali dan kelak memenangi lomba ini,” pungkasnya.

Kegagalan ini tentu juga akan berpengaruh terhadap nilai kontrak Yates berikutnya. Kontraknya bersama Mitchelton-Scott berakhir di penghujung 2018 ini. Saat masih mendominasi Giro, kabarnya dia sudah mulai pasang tarif hingga 3,5 juta Euro per musim mulai tahun depan. Sekarang, entah seperti apa tim-tim akan menilainya. (mainsepeda)

 

Foto-foto: Bettini, Cyclingnews.

Populer

Raih Gelar S3 di Sydney, Wisuda ‘Sarjana Ultra’ 1.500 Km di EJJ 2026
EJJ 2026: ’Ultra Women’ Ivo-Fian Rebut Podium ke-3 Pair sekaligus Lantern Rouge
EJJ 2026: Kabar Duka Memaksa Marcus-Aloysia DNF, Batalkan Piknik Bersepeda Lipat Keliling Jatim
EJJ 2026: Pasangan Ayah-Anak Miswanto dan Yusuf Kibar Tambah Koleksi Juara Pair
EJJ 2026: Tidur Hanya Dua Jam, Hendri Resmi Diwisuda sebagai ‘Sarjana Ultra’ 600 Km
EJJ 2026: Komposisi Podium Men 40 and Up Lengkap, Dua Cyclist Wdnsdy Mendominasi
EJJ 2026 600 Km: Perjalanan Kaderisasi Calon Peserta 1.500 Km Dimulai
EJJ 2026: Finish Strong 1.500 Km! John Boemihardjo Segel Podium Men 40 and Up untuk Kali Ketiga
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Bentang Jawa Lunas