Menikmati 'Siksaan' BalSam di Kabisat Ride

Kalimantan Timur punya rute gowes yang menantang, dan patut dicoba. Namanya Balsam. Bukan minyak kental yang digunakan sebagai pereda nyeri, atau pengawet mumi, lho ya. Balsam yang kami maksud adalah akronim dari Balikpapan-Samarinda. Panjangnya 120 kilometer. Rute ini didominasi oleh medan rolling dan sejumlah tanjakan yang bikin kita bergumam: Wow!

Balsam pilihan menjadi pilihan gowes komunitas Folding Bike Balikpapan (Folbak), Sabtu (29/2) kemarin. Kami menyebutnya dengan 'Folbak Le Grand Tour Balikpapan-Samarinda 120KM'. Selain anggota Folbak, gowes spesial tahun di kabisat ini juga diikuti cyclist dari Samarinda, Berau, Surabaya, dan Jakarta. Total pesertanya 88 cyclist.

Perjalanan kami dimulai dari sekretariat Folbak. Road Captain Fauzan dan Danoe memimpin rombongan besar hingga 8 kilometer dari titik start. Selepas itu cyclist dipersilahkan gowes dengan style masing-masing hingga pit stop pertama di Salok Api, sekitar 30 kilometer dari start. Kami beristirahat sejenak. Sekadar meluruskan kaki, dan mengisi air di bidon.

Setelah itu perjalanan berlanjut. 'Siksaan' pertama dimulai. Kami melewati rute yang kondang dengan sebutan '12 Naga Berayun'. Sesuai dengan namanya, rute ini memang naik-turun. Persis seperti punggung naga. Sejumlah rekan pun mulai tumbang. Baik karena kram maupun sepeda yang bermasalah. Meski demikian, mereka tetap semangat untuk meneruskan gowes.

Pemberhentian kedua ada di sebuah warung makan di Samboja. Jaraknya kurang lebih 50 kilometer dari garis start. Artinya, kami sudah menuntaskan separuh perjalanan ini. Setelah puas menyantap sarapan, kami meneruskan perjalanan tepat pukul 10.00. Kami tak mau terlalu lama beristirahat. Sebab sinar matahari cukup menyengat hari itu.

Jarak antara pit stop kedua dan ketiga memang pendek. Hanya 20 kilometer. Tapi kami dihadang oleh tanjakan di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto. Gradiennya lumayan tinggi. Mencapai 13 persen. Dibutuhkan kesabaran dan keteguhan hati untuk menaklukkan medan ini. "Kalau tidak kuat jangan dipaksa. Didorong saja. Atau istirahat dulu di warung," bilang Mujib, penanggung jawab lapangan di kegiatan ini.

Benar saja, peserta yang memaksakan diri--baik karena pengaruh teman atau dorongan hati--bertumbangan. Mobil evakuasi pun hilir mudik untuk mengangkut peserta yang kram. Tenaga kami benar-benar dikuras di jalur ini. Kami seolah tidak diberikan kesempatan untuk menghela napas. Rasanya sangat lega ketika tiba di pit stop ketiga di Polsek Tahura.

Gowes berlanjut dengan rute sejauh 50 kilometer memuju Islamic Centre Samarinda. Kali ini rintangan terbesar bukan tanjakan, tapi pancaran matahari yang panas terik. Saking panasnya, rasanya posisi matahari berada tepat di atas kepala kami. Sementara energi kami mulai menipis setelah dihajar medan 'neraka' menuju etape kedua, dan ketiga.

Seharusnya seluruh peserta harus tiba di garis finis pukul 16.00. Akan tetapi, sebuah kelompok kecil yang menamai diri 'tim kewer-kewer', baru melewati garis akhir pukul 17.00.

Acungan jempol harus diberikan kepada mereka. Sebab, walaupun berhadapan dengan medan yang sangat menyiksa, mereka menolak untuk dievakuasi. Mereka bertekad gowes sampai finis. Salut!

Sambutan hangat diberikan Komunitas Folding Bike Samarinda ketika kami tiba di garis finis. Kami sempatkan untuk gowes bareng Sabtu malam, dan makan malam bersama.

Kami juga saling bertukar pengalaman sesama cyclist. Akhirnya, rangkaian Folbak Le Grand Tour Balikpapan-Samarinda 120KM ditutup dengan penyerahan medali untuk seluruh peserta gowes.

Kemudian muncul istilah lucu untuk finisher. Bagi yang berhasil menuntaskan keseluruhan rute tanpa evakuasi, mereka menyandang gelar 'S1 Balsam'.

Gelar 'D3 Balsam' diberikan untuk mereka yang hanya kuat hingga pit stop ketiga. Sementara yang hanya gowes hingga pit stop kedua mendapatkan ijazah 'SMA Balsam'. Let’s fun on bike!(Iwan Jack)

Foto: Dokumentasi Folbak Balikpapan


COMMENTS