Sukses penyelenggaraan Tour de Borobudur (TdB) 2019 makin memotivasi penyelenggaranya. Tahun depan, TdB diharapkan menjadi event berskala internasional. Apalagi ajang balap sepeda terakbar di Jawa Tengah (Jateng) ini akan akan memasuki usia penyelenggaraan ke-20 pada 2020 nanti.

TdB memang mulai digelar sejak 2000 silam. Tak hanya menjadi ajang bersepeda terbesar di Jateng, event ini merupakan salah satu senjata untuk mempromosikan pariwisata. Karena daya magisnya yang kuat, TdB diharapkan bisa naik ke level internasional. 

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo mengidamkan gelaran TdB dalam skala lebih besar tahun depan. “Saya ingin Tour de Borobudur menjadi event internasional yang cukup bergengsi,” bilang suami Siti Atikoh tersebut.

Apalagi, lanjut Ganjar, TdB akan memasuki usia ke-20 pada 2020 nanti. Oleh karena itu, Ganjar ingin ada sesuatu yang berbeda. “Karena sudah 20 tahun digelar, harapan saya harus lebih bagus,” imbuhnya.

Menindak lanjuti harapan Ganjar, Wakil Ketua TdB 2019, Hendra Dharmanto mengatakan pihaknya sedang meramu formulasi yang pas untuk TdB musim depan. Ada beberapa opsi yang sudah mereka siapkan.

Mulai dari mengadakan road race dengan mengundang tim profesional dari dalam dan luar negeri. Hingga mempersiapkan rute-rute yang lebih menantang, serta kemasan yang lebih wah dari TdB 2019.

Selain itu, sektor pariwisata bakal lebih digencarkan. Agar lebih banyak wisatawan, baik dari dalam dan luar negeri, yang datang ke Jateng. Jika skalanya lebih besar, TdB juga juga harus dipromosikan dalam expo pariwisata dari di dalam dan luar negeri.

“Kami sedang memformulasikan format yang paling tepat untuk tahun depan. Dalam waktu dekat kami akan sowan ke Pak Gubernur. Kami akan meminta petunjuk, dan arahan beliau,” terang Hendra.

TdB 2019 memang banyak mendapat respon positif dari pesertanya. Mereka mengaku puas dengan rute, maupun hospitality selama event ini berlangsung. Tak heran apabila mereka ingin kembali ke TdB tahun depan.

Event bersepeda terakhir saya pada tahun ini ya Tour de Borobudur. Ini cukup menyenangkan buat saya. Happy ending,” ucap Ernest Fardiyan Syarif, gitaris grup band Cokelat.

Kesan positif dari peserta membuat Samba (Semarang Bicycle Association) sebagai pihak penyelenggara puas. “Secara rute juga pas. Yang nanjak bisa nanjak, yang doyan sprint juga bisa sprint,” ungkap Lo Tik Yong, komandan Samba. 

Ia menjelaskan, medan TdB 2019 memang tidak seberat tahun sebelumnya. Selain itu, cuacanya juga sangat mendukung. Langit selalu mendung selama dua hari event ini berlangsung. Bahkan sempat hujan lebat di Salatiga.

“Kami sebagai panitia puas karena peserta juga merasa terpuaskan. Animo pesertanya juga luar biasa. Tahun depan mereka mau ikut lagi,” bilang Ko Chay, sapaan akrabnya. 

Konsep go green yang mereka lakukan juga berjalan mulus. Walaupun secara cost lebih mahal, namun sistem tanpa botol plastik ternyata bisa dijalankan. Hanya saja, karena baru kali pertama dilakukan, konsep ini masih belum sempurna.

“Ini pertama kali dilakukan, jadi masih meraba. Kami bersyukur karena peserta juga tidak komplain walaupun tidak ada botol,” imbuh Ko Chay. 

Ko Chay menambahkan, TdB juga memicu daerah-daerah lain di Jateng untuk mempromosikan sektor wisatanya melalui bersepeda. “Daerah yang kami lewati sudah telepon, dan minta diadakan acara untuk tahun depan,” ungkapnya.(mainsepeda)


COMMENTS