Tour de Borobudur (TdB) XIX 2019 resmi berakhir Minggu (3/11) siang. Event bersepeda terakbar di Jawa Tengah (Jateng) ini ditutup dengan gowes di rute flat. Dari De Tjolomadoe di Karanganyar, menuju Candi Borobudur di Kabupaten Magelang. 

Jumlah peserta meningkat menjadi 1.700 cyclist. Jarak yang ditempuh juga lebih pendek. Sekitar 105 kilometer. Medannya flat. Hampir tidak ada tanjakan berat seperti yang terjadi pada etape pertama. Tingkat kemiringan maksimalnya 'hanya' 9.3 persen.

Start dari De Tjolomadoe, Minggu pagi, peserta bergerak menuju pit stop di Candi Sewu di Klaten. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan berlanjut ke ke pit stop kedua di Sub Terminal Agribisnis di Sleman. Selepas itu, mereka bergerak menuju garis akhir.

Para cyclist sudah memasuki garis finis di Candi Borobudur sekitar pukul 10.30. Tetibanya di sana, mereka disuguhi dengan tarian daerah dan musik. Aneka menu makanan juga dihidangkan untuk para peserta TdB 2019.

Ganjar Pranowo sampai di area Candi Borobudur

“Untuk track, semuanya oke. Rutenya juga enak. Hari pertama memang agak berat. Tapi hari kedua ini seperti recovery ride. Kondisi alam juga mendukung. Cuacanya mendung,” ucap Siti Atikoh, istri Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo. 

Ibu satu putra tersebut mengaku puas karena bisa menuntaskan gowes selama dua hari dengan mulus. Berhasil menyelesaikan melahap rute lebih dari 250 kilometer selama dua hari, menjadi catatan anyar untuknyi. 

“Secara pribadi ini menjadi achievement untuk saya. Ini rute terjauh bagi saya. Alhamdulillah saya bisa finis dengan bahagia,” ungkap Siti Atikoh.

Siti Atikoh menyapa anak-anak yang menyambut peserta TdB di jalan (Foto: Dewo Pratomo)

Dia juga memberikan acungan jempol kepada aparat kepolisian atas kerja keras selama TdB 2019 berlangsung. Menurutnya, polisi memiliki peran besar membuat event ini berjalan kondusif, serta aman bagi para peserta. 

Kesan positif terhadap TdB juga disampaikan Kapolda Maluku, Irjen Pol. Royke Lumowa. “Menantang. Tanjakannya, jalan lurusnya, turunannya, belokannya. Cuacanya juga luar biasa. Mendung terus. Bahkan kemarin sempat hujan,” ungkap Royke.

Royke berhasil menuntaskan gowes selama dua hari dengan lancar. Ia selalu finis di baris terdepan. Bukan hanya itu, mantan Kakorlantas Polri ini berhasil menempati peringkat keempat dalam King of Mountain (KOM) 55 tahun–Up.

“Peserta tahun ini juga lebih kuat,” aku pria kelahiran Makassar itu. “Rutenya memang berbeda dengan tahun lalu. Tahun lalu didominasi oleh tanjakan. Tetapi rutenya lebih pendek. Sekarang lebih variatif,” lanjut Royke.

TdB 2019 juga memberikan pengalaman berharga bagi cyclist yang baru pertama kali mengikuti ajang ini. Salah satunya Ernest Fardiyan Syarif, gitaris grup musik Cokelat. Sebagai peserta, ia merasa aman selama gowes dari Semarang menuju Borobudur.

Ernest Fardiyan Syarif (Foto: Dewo Pratomo)

“Kami bisa bersepeda dengan bebas. Saya seperti race di luar. Pemprov Jawa Tengah benar-benar mempersiapkan ini dengan baik. Saya mungkin akan kembali lagi tahun depan,” ucap suami Nirina Zubir ini.

Selain mengampanyekan go green, TdB menjadi media promosi pariwisata di Jateng. Ada enam titik wisata yang disinggahi tahun ini, yakni Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Api Abadi Mrapen, De Tjolomadoe, Candi Sewu, dan Candi Borobudur.

Sports tourism memang kami kembangkan. Harapan saya, mereka tahu bahwa Jateng punya tempat yang asoi. Tempat-tempat yang indah. Nantinya mereka tak lagi datang karena sepeda, tapi berlibur dengan keluarga,” kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.

Seperti halnya sang istri, Ganjar berhasil menuntaskan etape kedua dengan mulus. Wajahnya tampak sangat bahagia ketika menyentuh garis finis. Ia juga senang karena mendapatkan report bagus dari peserta TdB 2019.

“Saya melihat wajah-wajah yang sudah klenger karena kepanasan di tanjakan. Saya juga melihat wajah-wajah bahagia ketika mendapatkan hujan rintik-rintik. Juga wajah-wajah sedikti ceria tapi panik ketika hujan deras,” ujarnya.

“Hari ini cuacanya bagus. Cuacanya mendukung. Pesertanya tambah banyak. Mereka juga terlihat bahagia. Mereka senang, dan kami mengarahkan mereka ke tempat-tempat pariwisata,” tutur politisi kelahiran Karanganyar itu.

Siti Atikoh bersama Bagus Ramadhani (CEO SUB Jersey)

Ganjar Pranowo melihat jersey di booth SUB Jersey

Ganjar berharap TdB naik kelas tahun depan. Tepat saat event ini berulang tahun ke-20. Untuk itu, Ganjar berharap masukan dari peserta tentang apa yang harus ditingkatkan di TdB. Baik terkait rute yang akan dilewati pada balapan 2020 nanti, pelayanan terhadap cyclist, maupun aspek lainnya.

"Mudah-mudahan tahun depan kami akan siapkan untuk kelas internasional. Sehingga teman-teman semuanya akan bisa menikmati Tour de Borobudur (dengan) lebih baik," sebut Ganjar.(mainsepeda.com)

Foto: Dewo Pratomo, Humas Pemprov Jateng, Tim mainsepeda.com


COMMENTS