Serunya Medan Gravel dan Belajar Sejarah Megalitikum di Kampung Bena

| Penulis : 

Rabu pagi, 18 September, dengan berat hati saya dan Widi harus berpamitan dengan Hotel Manulalu di kaki Gunung Inerie, Bajawa, Flores, NTT. Pemandangan indah di kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, NTT ini akan selalu kami kenang. Tapi perjalanan hari kelima ini harus dilanjutkan.

Tujuan berikutnya adalah menuju kota Borong, ibukota kabupaten Manggarai Timur, NTT. Perjalanan gowes dengan sepeda tandem Polygon Impression sejauh 81 km. Harus menanjak setinggi sekitar 1.000 meter.

Setelah kami berhasil menaklukkan “queen stage” kami Selasa, 17 September, kami merasa lebih percaya diri. Tetapi persiapan matang tetap kami utamakan. Makan dan istirahat yang cukup.

Kami keluar dari hotel sekitar jam 09.30 pagi. Dan gowes sekitar 2 km kami mengunjungi situs kampung wisata megalitikum yang bernama Kampung Wisata Bena. Berada di desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, NTT. Kami mengulang masa sekolah, dengan belajar dan bertanya pada penduduk sekitar mengenai sejarahnya.

Sangat menarik, ini adalah budaya kuno dengan mendirikan monumen dengan bebatuan sebagai sarana untuk melakukan upacara adat. Biasanya dilakukan untuk berkomunikasi dengan roh leluhur disertai pengorbanan hewan. Kampung Wisata Bena adalah satu-satunya kampung megalitikum di Indonesia.

Di situ juga ada bangunan Ngadu yang merupakan simbol nenek moyang lelaki. Biasanya terletak di depan setiap rumah adat. Berbentuk tiang tunggal yang memiliki atap dari serat ijuk menyerupai payung teduh.

Kayu yang dipilih sangat spesial, kayu paling kuat karena juga berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban saat upacara adat atau pesta adat. Juga ada bangunan bernama Bhaga yang merupakan simbol nenek moyang perempuan berbentuk seperti pondok kecil.

Puas belajar sejarah, kami melanjutkan perjalanan. Pemandangan masih tetap seperti kemarin-kemarin. Terlalu indah untuk diungkapkan. Kami melewati lembah dan ngarai. Perjalanan hari kelima ini harus berhati-hati dan menuntun beberapa kali karena harus melewati jalanan berbatu serta berpasir. Seperti medan gravel yang sedang beken di Amerika Serikat itu.

Meski begitu, gowes kami hari ini tidak bisa dibilang santai. Saya harus gowes sekuat tenaga menaklukkan tanjakan 15 – 18 persen. Naik dan turun! Saya rasa kampas rem mulai menipis. Dan saya harus mencari toko sepeda saat tiba di kota Ruteng, NTT.

Memang rute dari Bajawa menuju Borong ini rutenya adalah menurun terlebih dahulu baru menanjak. Bajawa terletak di titik tertinggi di lereng Gunung Inerie. Jalanan yang menurun berkelok-kelok beberapa di antaranya berbentuk hairpin. Membuat saya harus berhati-hati. 

Ladang-ladang penduduk di kiri-kanan jalan dipenuhi dengan rumpun bambu menjulang tinggi diselingi beberapa kebun cengkih dan kokoa dimana komoditas tersebut menjadi andalan dari daerah ini. 

Hari ini, kami agak terlambat makan siang. Baru jam 14.00 kami menemukan restoran Gemo Beach di pesisir pantai Aimere, masih dalam Kabupaten Ngada, NTT. Setelah gowes sejauh 40 km.

Setelah puas istirahat dan makan siang, tentu minum kopi, perjalanan kami lanjutkan. Dari Aimere menuju kota Borong banyak pembangunan jalan besar-besaran.

Beberapa kali kami harus terhenti dan menunggu agar mesin-mesin besar itu dapat meratakan batu di jalanan. Atau menunggu alat-alat besar mengambil dan menaruh batu ke truk.

Saat menunggu itu, Widi iseng ingin mencoba menjadi “captain” yaitu yang duduk di depan sebagai pengendali sepeda tandem. Sedangkan yang duduk di belakang bernama Stoker.

Ternyata tidak mudah! Widi bisa mengendalikan sepeda tandem itu. Tapi saya yang tidak bisa menjaga keseimbangan sehingga menyulitkan Widi. 

Akhirnya, kemudi kembali ke Captain Cecco. Dan perjalanan dilanjutkan menuju Borong. Jalanan masih tetap naik turun dan akhirnya sore menjelang gelap kami masih di jalanan.

Tepat jam 18.20, kami finis di hotel Kasih Sayang di kota Borong. Saya merasa capek sekali tapi masih ada dua hari yang harus dijalani untuk sampai ke Labuan Bajo, NTT.

Hari ini, Kamis, 19 September, perjalanan kami sejauh 53 km dengan elevasi 1.800 meter dari Borong ke Ruteng! Lantas hari terakhir, Jumat, 20 September gowes sejauh 114 km dengan elevasi 2.000 meter dan finis Labuan Bajo! Masihkah kami sanggup? Saya tetap gowes dengan Widi tapi mohon dibantu doa! *

 

Populer

In This Economy, Ternyata Ini Alasan Para Peserta Ketagihan Ikut Bromo KOM, Ada yang 12 Kali Ikut!
12 Tahun Bromo KOM, Tetap Melahirkan Debutan yang Penasaran Menaklukkan Wonokitri
Terbang dari Australia Demi Bromo KOM, Sepeda Cyclist Ini Malah Tertinggal Saat Transit di Singapura
Bromo KOM 2026: Catat Jadwal, Lokasi, dan Alur Pengambilan Race Pack
Berburu Momen Terbaik di Bromo KOM 2026? Tenang, Puluhan Fotografer Siap Rekam Aksi Peserta
Persaingan Women Elite Bromo KOM 2026: Maghfirotika Marenda Dapat Tantangan Nama-Nama Baru
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Polda Jatim Kembali Jadi Titik Start, Bromo KOM 2026 Jadi Rangkaian HUT Ke-80 Bhayangkara
Tour de Romandie 2026: Tak Terbendung, Pogacar Raih Juara Umum
Trek Domane SLR Baru Bisa Pakai Ban 38 Mm