STORY : Me & My Bike (19)
Ibu Bhayangkari yang Mencintai Pegoretti
by - April 20, 2019

Pegoretti bike is surgical precision meets aesthetic insanity – Sylvia Novieta

Bulan September 2018, Sylvia Novieta ingin menangis ketika menerima frame Pegoretti Responsorium Ciavette warna kuning. Tidak pernah Sylvia se-emosional itu ketika mendapatkan sebuah frame sepeda.

Sebuah penantian panjang, pesan di bulan Maret 2018. “Waktu order sempat ditanya mau warna apa dan motif apa. Wah, tumben ditanyain begitu. Biasanya kan semau-mau Dario. Langsung saya jawab kuning dan motif abstrak yang banyak! Dasar tidak mau rugi!” cerita Sylvia asal Jakarta ini lantas tertawa.

Sambil menunggu, Sylvia mendapatkan kabar tanggal 23 Agustus 2018, Dario meninggal. Sontak Sylvia sedih. Sedih karena salah satu maestro frame dunia meninggal. Sedih juga karena belum tahu bagaimana nasib frame pesanannya.

Setelah dilacak oleh Cialung, bos Cycling Concept Bandung, distributor Pegoretti untuk Indonesia, ternyata frame pesanan Sylvia sudah dikirim ke Indonesia dua minggu sebelum Dario meninggal.

“Makin penasaran saya dengan frame itu. Karena saya belum lihat sama sekali coraknya, apalagi sang maestro telah meninggal,” tukasnya. Ketika Cialung mengabari bahwa frame sudah datang, Sylvia langsung meluncur tanpa babibu.

Pertama kali memegangnya. Merinding! Warna sangat bagus. Abstraknya sangat indah. Framenya sangat keren! Sylvia melongo  dibuatnya! Apalagi ada emosi yang berbeda, Dario telah meninggal dan ini salah satu last piece-nya.

Sylvia tidak mau gegabah dalam membangun sepeda dengan frame Pegoretti ini. “Saya ikuti semua saran Dario. Bahwa frame Italia harus diisi dengan komponen Italia juga,” tuturnya.

Beruntung, seperti jodoh. Tak lama setelah punya Pegoretti, ada yang menawari grupset Campagnolo 80th anniversary dengan harga lumayan miring. “Barang second tapi belum dipakai sama sekali!” bangganya. Begitu pula dengan wheelset Campagnolo 80th anniversary didapatnya dari teman lain dengan harga yang tak kalah bagusnya.

Untuk komponen lain seperti stem, handlebar, seatpost, sadel semuanya menggunakan merek Fizik juga asal Italia. “Sesuai rekomendasi dari Dario yang tertulis di websitenya,” tuturnya.

Sylvia memilih semua komponennya yang terbaik agar ringan. Sehingga bobot keseluruhan Pegoretti Sylvia adalah 7,6 kg. “Termasuk ringan untuk sebuah steel bike,” bangganya.

Menurutnya, Pegoretti adalah surgical precision meets aesthetic insanity. “Sepeda ini enak banget dibawa ngebut karena framenya kaku dan ringan. Meskipun bawaannya agresif tapi masih tetap nyaman khas steel bike,” jelas perempuan yang bekerja sebagai Account Management Director Mastercard Indonesia ini.

Selain mencintai sepeda, Sylvia juga cinta olahraga gowesnya. “Gowes bisa membawa saya ke tempat-tempat indah di Indonesia. Saya terkesima saat gowes di Pekanbaru, Padang, Merapi, dan Merbabu,” ceritanya.

Belum banyak even gowes yang diikuti oleh perempuan kelahiran 1 November ini. sejak 2016, Sylvia mengikuti gowes Audax Jogja, GFNY Lombok 180 km, Bromo 100K, GFNY Bali 140 km, dan Bike Rally Singapore 170 km.

Hingga hari ini, Sylvia belum menemukan duka saat bersepeda. “Banyak sukanya. Lihat pemandangan indah, banyak ketemu teman baru cyclist lokal. Meskipun kita bersusah payah di tanjakan, tapi akhirnya kita bisa berteman,” ceritanya.

Sylvia tidak akan membawa Pegoretti-nya untuk mengikuti even-even tersebut. Dia memiliki senjata lain. Ada Wilier yang dilengkapi grupset Dura-Ace dan crank Osymetric dan Festka Scalatore.

“Yang istimewa adalah Festka karena dibuat custom sesuai dengan geometri tubuh saya dan ini speknya untuk medan yang menanjak,” bangga ibu dari Kimi Emerson Suryo Kusumo dan Aria Bagaspati Suryo Kusumo.

Sengaja Sylvia batasi memiliki tiga sepeda agar bisa maksimal menggunakannya. “Apabila lebih dari tiga maka besar kemungkinan ada yang ngandang tidak digunakan,” cerita istri pejabat Kepolisian Indonesia.

Saat ini, Wilier Sylvia sedang dibongkar total untuk dicat ulang. Rencananya, Wilier akan digunakan untuk gowes harian dengan speed gila-gilaan. Tapi bila jadwal gowesnya dalam kota Jakarta bersama teman-teman RCCJKT, Sylvia menggeber Pegoretti-nya hingga speed 35-38 kmh.

“Sebetulnya, tahun 2016 lalu saya memulai gowes ini karena saya harus beristirahat dari olahraga trail run setelah cidera. Tapi sekarang, saya jatuh cinta dengan gowes dan berencana untuk lebih fokus dengan olahraga ini,” tutup perempuan kelahiran Malang. (yudy hananta)         

 

 


COMMENTS