Kehidupan bersepeda Nandi Wardhana unik dan spesial. Ruangan sepedanya khusus. Koleksi sepedanya puluhan. Semuanya sepeda klasik bahkan kuno. Ada yang berusia lebih dari 80 tahun! Dirinya mengaku mencintai sepeda. Tidak dengan gowesnya. Ternyata ada tiga alasan dirinya mencintai sepeda kuno.

Pertama, suka mempelajari evolusi sepeda. Kedua, karena bentuk dan teknologinya. Alasan ketiga adalah sentuhan seni di sepeda klasik road bike. Alhasil, sejak enam tahun lalu, Nandi berburu sepeda vintage, classic road bike, dan sepeda onthel old bike. Sepeda vintage pertama cyclist berusia 35 tahun ini adalah BSA Sportsman Light Tourist keluaran 1936 warna hitam.

“Saat itu saya masih berpikir bahwa sepeda klasik harus dari Inggris. Apalagi sebelumnya saya sudah punya sepeda onthel old bike yang mayoritas dari Inggris,” tukasnya.

Beruntung, Nandi punya koneksi di Inggris jadi bisa mendapatkan BSA itu dan dikirim ke Indonesia. Sayang, sesampai di Indonesia, Nandi harus terjegal urusan dengan bea cukai.

“Indonesia sangat ketat dalam aturan impor barang bekas. Jadi saya harus merelakan melego sebuah Vespa koleksi saya demi menebus BSA itu,” kenang pria kelahiran 25 Juli.

Kolektor 18 unit sepeda onthel old bike dan 30 unit sepeda classic road bike ini mengincar dua sepeda kuno lagi. Rene Herse, sepeda kuno jenis randenneur buatan Prancis tahun 50an. “Satu lagi saya mengincar Paris Galibier juga produksi tahun 50an,” imbuhnya.

Awal bermain sepeda klasik, Nandi terus berkiblat pada Inggris. Tapi sejak Nandi gemar bermain sepeda balap, pilihannya mulai bergeser pada sepeda classic road bike buatan Italia.

“Di negeri pizza ini, sangat kental balap sepeda, sehingga berpengaruh juga pada perkembangan teknologi serta evolusi sepedanya,” bilang warga kawasan Tebet Utara, Jakarta Selatan ini beralasan.

Suami dari Yamin Anindya Putri ini menitik beratkan pada value sejarah sepeda atau keunikan pada saat pembuatannya. “Tantangan terberat adalah mendapatkan sepeda yang memenuhi kriteria itu dalam kondisi bagus,” bilang pemilik sepeda klasik road bike merek Miyata berbahan titanium keluaran 1996.

Baru-baru ini, Nandi mendapatkan sepeda Corima Puma dan Corima Cougar. “Dua sepeda ini masuk Indonesia diperuntukkan untuk atlet sepeda. jadi saya mencari koneksi ke mantan atlet dan berhasil meminang dua unit sepeda keren ini,” bangganya.

Sangat puas apabila Nandi bisa mendapatkan sepeda klasik. “Sepeda yang sudah berusia puluhan tahun masih bisa digunakan hari ini. Itu priceless kebanggaannya!” bilang Nandi.

Nandi mengaku dirinya pernah terbawa emosi. Saat di kontes sepeda vintage, Nandi mendatangkan sebuah sepeda dengan kondisi orisinil dari luar negeri.

“Tapi seiring waktu, saya sadar bahwa kenikmatan hobi ini bukan dari sekedar beli seperti itu. Bukan dari mahal atau gengsi, tapi yang terpenting adalah value dari sejarah sepeda itu. Dan sepeda yang pas buat kita adalah yang sesuai selera dan bujet. Bagaimanapun mahal dan bagusnya sepeda, tetap harus dikayuh,” jelas Nandi.

Menurut literatur yang dibacanya, era keemasan sebuah old bike adalah 1870-1930an. Berlanjut tahun 1930an ke atas dengan road bike yang dikenal dengan nama Path Racer. Lalu mulailah Tour de France.

“Jadi kecintaan saya pada classic vintage road bike adalah kelanjutan eksplorasi saya terhadap old bike,” bilang Nandi yang kerap mengajak sepeda vintage gowes Jakarta-Bogor sejauh 120 km pergi pulang dengan kecepatan rata-rata 30 kmh.

Mengoleksi total lebih dari 60 sepeda, Nandi memerlukan ruang tersendiri yang dijaga kelembabannya. Juga tidak boleh terkena matahari langsung. Secara berkala, ban dipompa dan bagian yang bergerak diberi pelumas agar awet dan tidak berkarat.

Saat ini, Nandi sedang berusaha mengajak teman-teman cyclist untuk membangun sepeda klasik. “Bukan berarti pakai sepeda klasik itu tidak asik,” tuturnya.

Bahkan, ayah dari Dihya Al-Kalbiy dan Uwais Al-Qarni ini membangun beberapa sepeda klasik yang dikombinasi dengan komponen sepeda modern sehingga lebih rideable untuk harian.

“Silakan bergabung dengan kami di classiccimo.cc untuk gowes sehat sekaligus mempertahankan nilai sejarah sepeda,” tutup Nandi. (yudy hananta)                    


COMMENTS