Serunya Mengikuti Spring Classics di “Disneyland” Sepeda
by Azrul Ananda - March 02, 2019

 

Bulan Maret dan April ini, arena balap sepeda dunia akan menjalani fase “Spring Classics.” Yaitu rangkaian balapan one-day di Belgia, Prancis, Italia, dan Belanda, yang melewati rute-rute seru penuh tantangan. Jalanan sempit peternakan, jalanan bebatuan, jalanan kapur, tanjakan naik-turun tanpa henti, dan lain sebagainya.

Terus terang, setiap tahun, mungkin rangkaian Maret-April inilah yang paling seru untuk diikuti atau ditonton. Karena setiap lomba hanya berlangsung satu hari, hasilnya sangat sulit ditebak. Ada bintang-bintang yang rutin menang di Maret-April ini, seperti Peter Sagan. Tapi tetap saja dia harus berjuang keras untuk memenangi satu lomba!

Kebetulan, pada Juli 2015, saya dan teman-teman dari Indonesia pernah merasakan rute-rute Spring Classics tersebut. Khususnya yang di Belgia dan Prancis. Kami pergi ke kota Kortrijk, di perbatasan Belgia dan Prancis.

Kami menginap di hotel yang setiap tahun dipakai Team Sky sebagai basis Spring Classics mereka. Lalu pergi merasakan rute-rute spesial di sekitarnya.

Yudy Hananta dan Toddy Sugoto di Paterberg.

Khususnya rute-rute yang dipakai di dua lomba Classics paling legendaris: Tour of Flanders dan Paris-Roubaix.

Dan menurut saya, rute-rute itu begitu mengasyikkan. Bisa dibilang, buat penghobi sepeda serius, pergi ke kawasan ini rasanya seperti pergi ke “Disneyland”-nya sepeda!

Khusus rute Flanders, sebenarnya tidak hanya dipakai di lomba Monument itu saja. Awal Maret ini, ada serangkaian lomba di Belgia yang juga menggunakan rute-rute yang sama.

Termasuk ajang “Opening Weekend,” 2-3 Maret ini. Yaitu Omloop Het Nieuwsblad dan Kuurne-Brussels-Kuurne.

Omloop Het Nieuwsblad masuk kategori WorldTour, dan menjadi alat ukur utama untuk Tour of Flanders. Karena lomba ini melewati tanjakan-tanjakan berbatu “Hellingen” yang sama.

Bahkan, rute Omloop tahun ini mirip dengan rute Flanders lama. Dalam 17 km terakhir lomba, pembalap harus melewati dan menaklukkan Muur van Geraardsbergen alias Kapelmuur. Sebuah tanjakan berbatu yang panjangnya “hanya” 1 km, tapi memiliki kemiringan maksimal 20 persen!

Siapa yang lolos duluan di tanjakan yang memiliki gereja di ujung itu, kemungkinan besar dialah juaranya!

Azrul Ananda di Kapelmuur.

Kemudian, di kawasan itu, ada banyak lagi jalanan berbatu dan tanjakan legendaris. Ada Paterberg, yang miringnya bisa tembus 20 persen. Lalu Koppenberg, yang tertutup pepohonan sehingga batu-batunya basah licin. Dan lain sebagainya.

Bersepeda melewati rute-rute itu seperti anak-anak ke Disneyland. Karena setiap bagian atau tanjakan seolah mewakili sebuah wahana hiburan yang mendebarkan dan mengasyikkan!

Pokoknya, kalau nonton bagian-bagian di Belgia saat Spring Classics, kita pasti mendapat suguhan yang seru. Belum lagi cuaca musim semi yang masih cenderung dingin dan basah. Menambah drama lomba.

Rangkaian Spring Classics ini bisa dibilang bermula dengan “cobbled classics,” yaitu yang melewati rute-rute berbatu seperti disinggung di atas. Selain Tour of Flanders, yang paling kondang adalah Paris-Roubaix, April nanti.

Paris-Roubaix ini nyaris tak punya tanjakan, tapi tergolong paling menakutkan. Karena bebatuannya lebih tajam dan kasar. Finisnya juga unik, pembalap harus keliling 1,5 putaran di Velodrome Roubaix. Sebuah velodrome beton kuno di kawasan yang –terus terang-- agak suram dan kurang berkembang.

Dari kiri : Azrul Ananda, Edo Bawono, Yudy Hananta, Cipto. S. Kurniawan, dan John Boemihardjo di Velodrome Roubaix.

Di arena cobbled classics ini, biasanya pembalap yang berjaya adalah yang bertipe badan besar. Harus tahan banting dan punya power besar menaklukkan medan yang berat.

Sebagai selingan, pada 9 Maret, ada classics di jalanan kapur yang tak kalah mendebarkan. Yaitu Strade Bianche di Italia. Ini lomba relatif baru, tapi sudah dipandang setara seperti yang legendaris.

Lalu pada 23 Maret ada Milan-San Remo. Ini satu lagi balapan Monument, dan merupakan balapan terpanjang (300 km). Bedanya dengan Classics lain, Milan-San Remo adalah ajangnya para sprinter. Setelah bersepeda begitu lama, hampir tujuh jam, ada rangkaian tanjakan dan turunan rumit sebelum finis di jalanan lebar datar.

Lomba ini merupakan salah satu target utama Peter Sagan.

Lantas, setelah rangkaian cobbled classics berakhir dengan Paris-Roubaix pada 14 April, giliran ajang-ajang classics untuk para climber. Antara lain Amstel Gold Race di Belanda, serta La Fleche Wallonne dan Liege-Bastogne-Liege di Belgia. Rangkaian ini dijuluki “Ardennes Classics.”

Khusus tahun ini, Liege yang biasanya berakhir di tanjakan, akan berakhir dengan rute baru lebih datar. Ini mengundang pembalap tipe lain untuk mengadu keberuntungan. Salah satunya: Peter Sagan!

Kalau Anda benar-benar hobi cycling, dan sangat suka melihat balapan di layar kaca (atau streaming), rangkaian lomba Maret dan April ini tak boleh dilewatkan.

Kalau Anda belum pernah memperhatikan sebelumnya, Anda dijamin akan dibuat geleng-geleng kepala. Melihat para pembalap dunia itu harus melewati jalanan sempit, menghadapi angin kencang, hawa dingin, jalanan bebatuan, dan tanjakan-tanjakan pendek yang curam.

Balapan-balapan ini bisa membuat orang yang cinta cycling menjadi semakin jatuh cinta! (azrul ananda)

KALENDER SPRING CLASSICS 2019

(Jangan Lewatkan!)

2 Maret – Omloop Het Nieuwsblad (Belgia)

3 Maret – Kuurne-Brussels-Kuurne (Belgia)

9 Maret – Strade Bianche (Italia)

23 Maret – Milan-San Remo (Italia)*

29 Maret – E3 BinckBank Classic (Belgia)

31 Maret – Gent-Wevelgem (Belgia)

3 April – Dwars door Vlaanderen (Belgia)

7 April – Tour of Flanders (Belgia)*

14 April – Paris-Roubaix (Prancis)*

21 April – Amstel Gold Race (Belanda)

24 April – La Fleche Wallonne (Belgia)

28 April – Liege-Bastogne-Liege (Belgia)*

Catatan: * = Tergolong “Monument” atau yang paling bergengsi. Ada lima Monument, empat ini plus Il Lombardia (Italia) di akhir tahun.

 


COMMENTS