BROMO KOM 2026 benar-benar diikuti para cyclist dari berbagai komunitas dan profesi. Di antara ribuan peserta yang bersiap menaklukkan tanjakan menuju Wonokitri, ada pula sejumlah dokter yang ikut menikmati "siksaan" sekaligus kemegahan dari event cycling paling bergengsi di Indonesia tersebut.

Salah satunya adalah dr Muhammad Pandunugrahadi, SpOT, MKedKlin, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi yang berpraktik di Kediri dan Surabaya. Tahun ini adalah kali ketiganya Pandu mengikuti Bromo KOM. Meski sudah beberapa kali menaklukkan tanjakan Wonokitri, baginya, rasa rindu terhadap event itu tak pernah hilang.

"Sebagai cyclist pasti punya rute spesial. Bagi saya, rute Bromo salah satunya. Selalu ngangenin," ungkap dokter yang akrab disapa Pandu tersebut.

Menurutnya, daya tarik Bromo KOM bukan hanya soal tanjakan legendaris. Atmosfer event juga menjadi alasan mengapa ia terus kembali. "Sejauh ini, belum ada event sepeda lain yang bisa menyamai Bromo KOM dari segi antusiasme peserta dan penyelenggaraan yang sangat well organized," tambahnya.

Untuk menghadapi Bromo KOM 2026, Pandu memperbanyak latihan tanjakan dalam dua bulan terakhir. Namun, targetnya tetap sederhana. "Yang penting under COT saja. Kalau bisa bonus personal record, alhamdulillah," jelasnya.


Dr Muhammad Pandunugrahadi menunjukkan nomor BIB setelah mengambil race pack di Surabaya Town Square, Jumat, 5 Juni 2026. Ini kali ketiga ia ikut Bromo KOM.

Baginya, event seperti Bromo KOM juga menjadi sarana silaturahmi dengan rekan-rekan sejawat. "Tujuan utama saya sebenarnya supaya bisa sepedaan bareng teman-teman sesama dokter. Event seperti ini jadi kesempatan untuk menyambung silaturahmi sekaligus berolahraga," papar pria yang berusia 36 tahun tersebut.

Sebagai dokter bedah tulang yang memahami sistem muskuloskeletal manusia, Pandu melihat Bromo KOM sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Ia meyakini, setiap cyclist harus mengenali diri sendiri. Jangan memaksakan diri di luar kemampuan.

Pandu menegaskan, hobi bersepeda memberikan banyak manfaat kesehatan. Dengan rutin bersepeda, sambungnya, kondisi kardiovaskular akan lebih prima. Bersepeda, secara ilmiah juga terbukti menurunkan risiko penyakit jantung.

"Dalam bidang saya, bersepeda rutin juga dapat menurunkan risiko pengapuran sendi lutut atau osteoarthritis saat usia lanjut," ungkapnya.

Bicara soal bersepeda di elevasi yang menantang, Pandu mengingatkan agar peserta tidak mengabaikan sinyal tubuh.

"Kalau yang dirasakan masih batas normal seperti kaki pegal, napas berat, atau punggung pegal, silakan lanjut semampunya. Tapi kalau sudah muncul kram, otot tertarik, atau nyeri tajam di lutut saat menanjak, segera turunkan intensitas atau berhenti terlebih dahulu," urainya.


Mahresya Kamajaya, dokter spesialis penyakit dalam asal Banyuwangi, bakal debut di Bromo KOM 2026. Ia sudah latihan endurance dan tanjakan. Foto: Instagram dr Mahresya. 

Sementara itu, dr Mahresya Kamajaya, dokter spesialis penyakit dalam asal Banyuwangi menjalani debut di Bromo KOM tahun ini. Meski baru kali pertama ikut, ia sudah memahami reputasi event yang menjadi impian banyak cyclist Indonesia itu.

"Menurut saya yang spesial dari Bromo KOM adalah tantangan tanjakannya yang ikonik dipadukan dengan pemandangan alam yang luar biasa indah," ujarnya.

Untuk menghadapi debutnya, Mahresya menjalani latihan endurance, latihan tanjakan, menjaga pola makan, serta memastikan kualitas istirahat tetap terjaga. Targetnya pun sama seperti banyak peserta lain. "Tentu ingin menyelesaikan rute under COT," ucapnya.

Sebagai internis, ia melihat event seperti Bromo KOM sebagai bukti bagaimana tubuh manusia mampu beradaptasi terhadap latihan yang dilakukan secara konsisten. "Rute dengan elevasi tinggi menuntut kapasitas kardiovaskular, kekuatan otot, serta ketahanan mental yang baik," jelas dr Mahresya.

Sementara itu, sosok yang paling senior di antara para dokter peserta Bromo KOM tahun ini adalah dr Nur Hidayat. Pria 62 tahun itu adalah dokter bedah saraf yang bertugas di RS Soedono Madiun sejak 2006. Bromo KOM 2026 menjadi partisipasinya yang kelima sejak kali pertama ikut pada 2022.


Dokter Nur Hidajat, spesialis bedah saraf RSUD Dr Soedono Madiun bakal mengikuti Bromo KOM untuk kali kelima. Ia target finis under COT.

Pengalaman pertamanya di Bromo KOM pada 2022 tidak berjalan mulus. Saat itu ia datang dalam kondisi belum sepenuhnya pulih setelah mengalami crash dua minggu sebelum event. Gigi belum lengkap, badan masih terasa sakit. Akhirnya, ia hanya bisa finis sampai Tosari. Sudah COT dan tidak bisa melanjutkan ke Wonokitri.

Namun tiga tahun berikutnya berhasil ia tuntaskan dengan baik. Yakni pada edisi 2023, 2024, dan 2025, dr Nur bisa finis under COT. Kini, Nur tetap bersepeda hampir setiap hari. Ia juga rutin melakukan long ride mingguan dan mengikuti berbagai event sebagai bagian dari latihan.

"Bromo KOM itu juga saya jadikan sarana latihan untuk event berikutnya. Misalnya Nggravel atau yang lainnya," ungkapnya. "Bromo KOM wajib masuk kalender setiap tahun, karena Bromo KOM itu ikonik. Kemudian pesertanya banyak, bahkan dari berbagai negara. Penyelenggaraannya juga profesional, dan semuanya ter-manage dengan baik," papar dr Nur.

Ia pernah bercanda dengan founder Mainsepeda, Azrul Ananda, mengenai dilema yang kerap dialaminya sebagai cyclist berprofesi dokter. Katanya, menanjak ke Bromo KOM itu sebenarnya melanggar sumpah dokter. Lho, kok bisa?

"Banyak pasien-pasien yang kram itu saya nggak bisa tolong. Kalau saya tolong satu-satu, nanti saya nggak (mencapai) COT dong," paparnya. "Saya cuma bisa bilang, semangat Pak, sabar," tutup dr Nur, lantas tertawa. (Mainsepeda)

Populer

Bromo KOM 2026: Catat Jadwal, Lokasi, dan Alur Pengambilan Race Pack
In This Economy, Ternyata Ini Alasan Para Peserta Ketagihan Ikut Bromo KOM, Ada yang 12 Kali Ikut!
Terbang dari Australia Demi Bromo KOM, Sepeda Cyclist Ini Malah Tertinggal Saat Transit di Singapura
Para Ultra Cyclist Nasional Ikutan 'Naik Haji' di Bromo KOM 2026, Kibar Siap Lawan Zidan Attala
Persaingan Women Elite Bromo KOM 2026: Maghfirotika Marenda Dapat Tantangan Nama-Nama Baru
12 Tahun Bromo KOM, Tetap Melahirkan Debutan yang Penasaran Menaklukkan Wonokitri
Komunitas Serang Road Bike "Serbu" Bromo KOM 2026, Setengah Kursi Bus Dicopot untuk Angkut Sepeda
Ini Kalender Event Mainsepeda 2026 - Tantangan untuk Segala Jenis Sepeda!
Berburu Momen Terbaik di Bromo KOM 2026? Tenang, Puluhan Fotografer Siap Rekam Aksi Peserta
Polda Jatim Kembali Jadi Titik Start, Bromo KOM 2026 Jadi Rangkaian HUT Ke-80 Bhayangkara