Superstar Team Sky, Christopher Froome, mantap akan ikut Giro d’Italia, yang akan berlangsung 4-27 Mei mendatang di Israel dan Italia. Walau masalah Salbutamol-nya masih belum tuntas, pembalap Inggris itu fokus 100 persen di kompetisi, dan memburu apa yang disebut media sebagai “Froome Grand Tour Slam.”

Froome tahun lalu sukses memenangi Tour de France dan Vuelta a Espana. Kalau nanti menang Giro d’Italia, maka itu berarti dia merebut tiga grand tour berbeda secara berturut-turut. Plus, Froome juga bertekad merebut Tour de France kelimanya pada Juli nanti. Kalau itu juga berhasil, maka dia menjadi pembalap pertama sejak Marco Pantani pada 1998 yang sukses menjuarai Giro dan Tour di tahun yang sama.

“Target merebut tiga grand tour berturut-turut telah memberi saya motivasi baru. Tentu ada risiko mencoba merebut Giro sebelum Tour, tapi saya akan menyesalinya seumur hidup apabila tidak mencobanya,” kata pembalap 32 tahun tersebut.

Seperti telah disebut, kasus Salbutamol yang dilanda Froome sekarang memang belum tuntas. Di penghujung Vuelta a Espana, September tahun lalu, tes urin-nya mengungkapkan nilai Salbutamol (obat asma) dua kali di atas batas. Froome –pengidap asma sejak lama-- kukuh menyatakan tidak mengkonsumsi lebih dari batas, dan hasil tes sehari sebelum dan sehari sesudah tidak menunjukkan masalah.

Salbutamol sendiri tidak diklasifikasikan sebagai doping, dalam artian penambah performa. Sehingga tidak mengakibatkan otomatis larangan berlomba. Karena secara teknis bukan doping, hasil tes sendiri seharusnya tidak diungkapkan secara publik. Hasil itu bocor ke media, bukan diungkapkan resmi.

Saat ini pun UCI belum tuntas mentransfer kasus ini dari Anti-Doping Service (LADS) ke Anti-Doping Tribunal. Maksudnya belum diajukan untuk sidang. Andai nanti jadi sidang, dan Froome dinyatakan melanggar, Froome juga masih punya hak untuk banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS).

Jadi, kasus ini tampaknya masih akan berlangsung lama. Hasilnya juga disebut bisa mengubah pemahaman dan peraturan tentang pemakaian Salbutamol.

Tim legal Froome saat ini di-handle oleh pengacara kondang Mike Morgan. Froome pun bisa fokus seratus persen memburu prestasi. Bahkan, kepada Cyclingnews, dia yakin bakal bebas dari segala hukuman, karena dia merasa tidak melanggar aturan apa pun.

“Saya bersiap menghadapi skenario terbaik, untuk dibebaskan dari segala tuduhan, karena saya tahu saya tidak melakukan kesalahan apa-apa,” tandas ayah satu anak itu.

Team Sky pun menurunkan pasukan terbaiknya untuk men-support Froome. Sejumlah climber handal akan mengawal, yang utama Wout Poels dan Sergio Henao. Lalu masih ada David De La Cruz, Kenny Elissonde, dan Salvator Puccio. Untuk etape-etape datar, sebagai road captain adalah dua pembalap senior Christian Knees dan Vasil Kiryienka.

Giro d’Italia 2018 adalah edisi ke-101, dan untuk kali pertama dibuka di Israel. Tiga etape pertama diselenggarakan di sana, diawali dengan etape time trial di Jerusalem. Baru kemudian terbang ke Italia untuk menuntaskan 18 etape sisa. Kebanyakan adalah etape gunung, termasuk salah satu tanjakan paling kejam di dunia: Monte Zoncolan. (mainsepeda)

 

Foto-foto: Eurosports, Velonews.

Populer

EJJ 2026: Dilema Bambang Hartana, antara ‘Tugas Negara’ dan Target Mengejar CoT di CP 2
EJJ 2026: Akhirnya Zidan (Butuh) Tidur Juga
EJJ 2026: Kena Dobel Kendala, Muhammad Suhud Harus Beli Ban sekaligus Smartphone Baru
EJJ 2026: Petualangan Bersepeda 1.500 km dari Timur ke Barat Dimulai!
EJJ 2026: No Team Order, Dua Cyclist Wdnsdy JB dan Joko Bersaing Ketat Berebut Takhta Men 40 and Up
Zidan Attala Nouval Hidayat yang Pertama Capai "Cima Coppi" EJJ 2026
EJJ 2026: Hanya Satu Peserta Gagal CoT di Cima Coppi
EJJ 2026: Lewat 33 Menit dari CoT, Machfud Ingin Remidi Tahun Depan
EJJ 2026: Berusia Kepala Enam tapi Tetap Optimistis Tuntaskan Tantangan 1.500 Km
Unduh Rute Terbaru EJJ 2026 600 Km di Mainsepeda App!