Andhina Ayuningtyas stop gowes outdoor selama pandemi coronavirus. Demi memutus rantai penyebaran pandemi ini, Andhina memilih gowes di rumahnya menggunakan platform Zwift. Cyclist cantik asal Jakarta ini mengaku sering nge-Zwift pada dini hari, alias sebelum sahur.

Sebuah event outdoor di Padang pada 15 Maret lalu menjadi kali terakhir ia gowes di luar ruangan. Semenjak pulang dari Padang, Andhina mengaku sangat jarang keluar rumah. Ia hanya keluar rumah untuk sekadar berbelanja kebutuhan pokok saja. Pun demikian dengan aktivitas gowesnya. Andhina praktis hanya nge-Zwift dalam dua bulan terakhir.

"Bosan? Sudah pasti. Tapi harus ikhlas saja. Semua pasti ada hikmahnya. kan pemerintah juga menganjurkan kita untuk di rumah saja," kata cyclist lulusan sekolah pilot Deraya Flying School itu.

Andhina menambahkan, sebenarnya ia bisa saja gowes di luar rumah selama masa pandemi ini. Akan tetapi, ia memutuskan untuk mengikuti anjuran pemerintah. Selain lebih aman, ia juga ingin memberikan contoh positif kepada orang lain. Utamanya para followers di akun media sosial miliknya.

"Walaupun followers saya tidak terlalu banyak, tapi saya merasa punya tanggung jawab moral untuk mendidik yang baik. Selain itu, ketakutan saya adalah ketika ada yang terkena virus ini setelah gowes di jalan. Jadi lebih aman di rumah atau sekitaran rumah," jelas Andhina kepada Mainsepeda.com, Sabtu (9/5) siang.

Intensitas nge-Zwift-nya pun meningkat selama pandemi ini. Andhina dapat melakukannya tujuh kali dalam seminggu. Jarak yang ditempuh kisaran 50 kilometer hingga 100 kilometer. Kemudian, sejak memasuki bulan puasa, Andhina mengubah jadwal nge-Zwift-nya menjadi dini hari.

Andhina menjelaskan, pada dasarnya dia selalu bangun pagi setiap hari. Saat tidak bulan puasa, ia bangun tidur pada jam 03.00 atau 03.30. Kemudian ia melakukan salat tahajud dulu, dilanjut ngopi, lalu mulai nge-Zwift pada pukul 04.30 atau sesudah azan subuh.

"Nah saat puasa ini saya harus bangun lebih pagi agar bisa tetap olahraga sambil minum. Jadi saya bangun jam 01.00. Setelah itu tahajud dulu, ngopi, dan mulai nge-Zwift sebelum jam 02.00. Biasanya hanya 90 menit, atau 50 kilometer. Jadi jam 03.00 sudah selesai. Setelah itu saya bersih-bersih, lalu makan sahur," cerita pilot jelita itu.

Mengawali aktivitas lebih pagi, lanjut Andhina, membuatnya sangat berenergi untuk menjalani hari. Selain itu, berolahraga pagi membuatnya lebih fokus karena tak banyak diterpa gangguan. "Jadi lebih gampang menyemangati pikiran. Lebih gampang ngomong sama diri sendirinya saat sudah kecapean dan mau menyerah supaya semangat lagi," jabarnya.

Selain gowes sebelum sahur, Andhina tetap berolahraga sore selama sejam dengan mengikuti ngabuburide di Zwift Indonesia. Andhina mengungkapkan perbedaan saat nge-Zwift menjelang sahur dan menjelang berbuka. Kalau ngabuburide, ada banyak peserta sesama cyclist Indonesia yang berpartisipasi.

"Kalau nge-Zwift dini hari, pernah saya menjumpai satu-dua orang Indonesia. Nggak banyak. Seringnya hanya bertemu satu orang," tuturnya.(mainsepeda)

Foto: Dokumentasi Andhina Ayuningtyas

Populer

Vuelta a Espana 2026-Etape 20: Landa Menang, Enric Mas di Ambang Juara Overall
Tanjakan Menuju Telaga Ngebel Ramah Tapi Unik, Peserta KAI Ngebel KOM Jangan Khawatir!
Tahun Lalu Gagal Ikut, Nahrudin Siap Rasakan Perihnya Tanjakan Erek-Erek
ICT Tuntaskan 1.194 Km Keliling Taiwan
Dari Jawa Timur ke Bentang Jawa: EJJ Jadi Tempat Belajar Pegowes Ultra
Zidan Nouval Juara Bentang Jawa 2026, Kawinkan Gelar Ultra-Cycling 1.500 Km
Pogacar Juara ITT, Rebut Yellow, White, dan Polkadot Jersey!
Race Around Java: Keliling Jawa 3.000 Km, Total Nanjak 30.000 Meter
Tour de France 2026-Etape 2: Del Toro Menang, Vingegaard Pertahankan Jersey Kuning
Juara Bentang Jawa Yusuf Kibar Menimba Ilmu di Dustman 2025