Apa Kata Peserta tentang Gran Fondo Toraja?
by - July 31, 2019
Apa Kata Peserta tentang Gran Fondo Toraja?
by Yudy Hananta - July 31, 2019

Sejatinya acara Gran Fondo Toraja yang diadakan oleh Makassar Cycling Club (MCC) ini adalah perayaan ulang tahun. Biar meriah, ulang tahun dirayakan bersama komunitas lain. Sekaligus mengenalkan pariwisata Sulawesi, khususnya Tana Toraja.

“Peserta pemula yang sangat puas karena mencapai rekor baru dalam jarak maupun elevasi. Even ini memberi wadah eksplorasi untuk cyclist yang pengalaman, dan memberi ruang bagi cyclist baru yang berani mencoba hal baru,” tukas Daru Pudji Utomo, ketua panitia Gran Fondo Toraja. Hasilnya? Hampir semua peserta terpukau dengan keindahan alam dan rute gowes yang menantang.

Azrul Ananda (Surabaya)

Rute Gran Fondo Toraja sangat menark. Andai pemerintah lebih baik dalam menjaga kondisi jalan, ini termasuk rute paling menarik yang pernah saya rasakan. MCC luar biasa antusiasmenya dalam menyelenggarakan even ini. Semoga ini semakin menyemangati cyclist di Sulawesi Selatan, sekaligus semakin mempopulerkan olahraga yang sangat indah ini.

Manado Cycling Mania (MCM)

“Spektakuler!” hanya itu kata yang keluar dari mulut Royke Hendra, salah satu dedengkot MCM ini. Bersama tiga orang kawannya, Vary Suak, Andry, dan Jonathan Loma sangat menikmati dua hari gowes di Sulawesi Selatan ini.

Menurut Royke yang sangat menyukai tanjakan ini, tanjakan saat menuju Toraja tidak “kejam” meskipun juga tidak ringan. “Masih bisa nikmat digowes,” tukasnya.

Bahkan Vary-pun sangat senang dengan rute hari pertama yang full datar sejauh 150 km. Di Manado susah mencari rute flat sejauh itu. “Angkat jempol kepada panitia MCM yang sangat welcome dan menjamu kami dengan spesial,” tutur Royke.

Royke yang hobi menggeber motor gede ini ternyata sering ke Toraja dari Manado. “Tapi sensasinya beda. Naik sepeda lebih bisa merasakan kenikmatan tersiksa di tanjakan-tanjakannya,” tuturnya lantas tertawa.

Samarinda Road Bike (SRB)

Ricky Agave berangkat dari Samarinda bersama dua orang teman, yakni Edi Purnomo dan Joko Cahyono, membuatnya jadi bersemangat. “Saya belum pernah ke Tana Toraja jadi begitu ada undangan dari salah satu teman dokter di Makassar langsung saya iya-in,” tuturnya.

Benar juga, ternyata sangat menarik rutenya. Hari pertama diberi pemanasan dengan rute flat 150 km. Rute hari kedua sangat keren menurut Ricky. Bahkan Ricky teringat kampung halamannya di sekitar Danau Toba yang adat istiadat serta kebudayaannya mirip dengan Toraja.

“Sayangnya, sedikit insiden, Joko mengalami kecelakaan. Salut dengan panitia MCC yang sangat responsif dan mengatasi masalah dengan cepat sehingga Joko bisa tertangani dengan baik meskipun tidak bisa gowes di hari kedua. Ditunggu even berikutnya!” tutur Ricky yang baru pertama kali mengikuti even gowes dengan jarak ratusan kilometer ini.

Edi menambahkan, akan lebih seru apabila ada lomba King of Mountain (KOM) dari Enrekang hingga titik selamat datang kota Makale sekitar 60 km.

Nabire Road Bike Community

Dari pulau seberang, ada komunitas dari Nabire, Papua juga hadir memeriahkan ulang tahun MCC ini. Total 8 orang berangkat yaitu Abdul Munir, Alimudin, Sawedi, Jalaludin, Haji Bahar, Haji Hamza, Tjahya, dan sang ketua yakni ibu Hasiah. “Tidak pernah terbayang sama sekali gowes sampai Toraja. Meskipun saya baru saja main road bike, tapi saya tetap semangat mengikuti acara ulang tahun MCC ini. Sebelum mengikuti acara ini, Tjahya kerap mengajari saya cara bersepeda yang benar sehingga bisa efektif dan efisien,” tutur Haji Hamza.

Ibu Hasiah juga berharap dengan adanya acara turing ini bisa menambah saudara dari bersepeda dan membuat pertemanan jadi lebih dekat dan langgeng.

Azrul Ananda School of Suffering (AA SoS Surabaya)

Antusias memeriahkan ulang tahun MCC, grup dari Surabaya total 9 orang berangkat ke Makassar yaitu Azrul Ananda, John Boemihardjo, Yudy Hananta, Thie Hong Peng, Raymond, Rudy Oyee, Ayox, Tatang, dan Celine Cecylia.

Menurut John, rute dua hari ini sangat cocok dan tidak terlalu berat. Karena hari pertama full flat dan tiba di kota Pare-Pare masih siang, jadi banyak waktu untuk beristirahat.

Sedangkan rute hari kedua sangat indah sehingga bisa sedikit melupakan beratnya tanjakan-tanjakan menuju Tana Toraja. “Begitu melihat rumah-rumah khas Toraja itu, saya bersyukur dan senang bisa gowes sampai sini,” tutur Hong Peng.

Hari ketiga, Senin, dijadikan hari untuk berwisata. Mereka mengunjungi Patung Yesus Memberkati dan Negeri di Atas Awan.

“Menuju dua tempat wisata itu ada tanjakan yang sangat tinggi. Akan menarik apabila digowes. Sepertinya gradiennya sama horor dengan Monte Zoncolan di Italia. Cocok dipakai sebagai pamungkas even Gran Fondo Toraja ini,” bilang John. (yudy hananta)

 


COMMENTS