Tuan dan Ayam, Membuat Esso Esso Gowes Makassar Bergairah dan Kompak
by - May 02, 2019

Tuan dan Ayam. Istilah itu ada di komunitas Esso Esso Gowes (E2G) dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ayam adalah anggota komunitas E2G yang gowesnya kuat atau dianggap sebagai atlet. Sedangkan sebutan Tuan adalah anggota yang lebih senior juga dianggap sebagai pelatih dari “ayam” itu.

Jadi sering mereka mengadakan acara adu gowes antar keduanya. Misal adu nanjak menuju Soppeng sejauh 185 km dengan elevasi mencapai 1250 meter antara “tuan dan ayam” yakni Fath Dahlan melawan Langgo Farid.

“Tidak ada tujuan khusus, hanya lucu-lucuan saja dan membuat anggota komunitas kami makin bergairah serta terpacu untuk latihan lebih giat. Karena yang jadi ‘tuan’ bisa berubah jadi ‘ayam’ begitu pula sebaliknya,” cerita Langgo.

Balapan “tuan dan ayam” ini juga berguna untuk menyeleksi anggota E2G yang performanya sedang kuat saat itu. Agar bisa mengharumkan nama E2G di even skala nasional seperti Bromo KOM Challenge, GFNY, atau lainnya.

Hal unik lain dari komunitas yang berdiri sejak 2014 ini adalah selalu diselesaikan dengan makan-makan. “Kami mengharamkan loading saat turing maupun saat mengikuti even. Jadi apabila ada anggota yang loading maka dia harus mentraktir semua peserta turing di kemudian hari. Apabila ada sepuluh orang loading maka bakal sepuluh hari makan gratis di tempat finis,” bilang Jufri Latief, ketua E2G.

Untuk mempererat antar anggota E2G, mereka sering mengadakan turing kecil dengan jarak 120-150 km dalam sehari. “Lagi-lagi dijamu makan-makan di tempat finis salah satu anggota kami. Ini bergiliran,” imbuh Jufri.

Satu hal unik, saat pilpres 2019 beberapa waktu lalu, seluruh anggota E2G membuat kesepakatan. Siapapun boleh membentuk kubu untuk mendukung salah satu capres.

Tapi saat capres pilihannya menang, maka kubu tersebut harus urunan membeli sapi dan dimasak lalu dimakan bersama seluruh anggota E2G. “Kami tidak mau politik merusak hubungan persaudaraan ini. Jadi harus diselesaikan dengan makan-makan!” bilang Syahrul Rauf.

Jangan heran, mereka tidak pernah problem soal dana. Pasalnya, seluruh anggota E2G kompak soal pendanaan “kas negara”. Disebut kas negara karena E2G sudah seperti negara kecil. Anggotanya mencapai 100 orang dengan 60 anggota aktif. Mereka dari berbagai latar belakang profesi, usia, dan tingkat ekonomi serta jenis sepeda.

Untuk anggota yang dihormati, E2G mempunyai julukan khusus seperti sekjen, rektor, dekan, kabid, reserse, kopassus, debt collector, dan lainnya.

Setiap anggota diharapkan mempunyai kesadaran sendiri untuk memberikan sumbangan ke “kas negara” sebesar kurang lebih Rp. 300 ribu per bulan apabila mereka mampu.

Tapi buat yang kurang mampu atau masih belum bekerja, jumlah sumbangannya tidak ditentukan. “Seikhlasnya saja disesuaikan dengan kemampuan. Setiap bulan berubah juga tidak masalah,” bilang Budi, bendahara E2G.

Komunitas E2G yang namanya berarti Hari-Hari Bersepeda ini memang setiap hari gowes. Hari Senin adalah harinya sepeda lipat. Cukup gowes dengan seli sejauh 30 km. Berikutnya, Selasa dan Kamis adalah hari untuk pecinta road bike. Lebih jauh, gowesnya sekitar 50 km. Jika masih dirasa kurang, beberapa anggota akan keluar rumah jam 04.30 dan menyelesaikan gowes berjarak 70 km.

“Kalau Rabu average speed harus 35-38 kmh dan atau ada climbingnya minimal elevasi 1.000 meter,” tutur Arrang, kabid rute. Berikutnya, hari Jumat, giliran mountain bike. Cukup 30 km dengan jalur offroad.

Untuk Sabtu dan Minggu, komunitas yang mempunyai opsi titik kumpul start di KFC Pettarani, Graha Pena Fajar, atau Apotik Bersaudara ini selalu gowes jarak jauh. Minimal 100-120 km dengan minimal elevasi 1.000 meter.

Setelah gowes, setiap hari mereka pasti berganti tempat finis. Pilihannya adalah finis di Mama Café, Warkop K27, Warkop Azzahrah, Hai Hong Café, Lakopi Café, atau Warkop Pongtiku. “Kadang jika ada yang ulang tahun, finis di rumah anggota sekaligus makan-makan,” bilang Langgo.

Di tempat finis, tidak ada gap antar anggota, mulai yang termuda usia 13 tahun hingga tertua berusia 70 tahun. Semua menyatu bergurau. Saat di warung kopi ini seluruh anggota bisa menikmati hidangan tanpa batasan dan dibayar oleh uang “kas negara”.

Yang unik adalah Fath Dahlan yang sering dipanggil om FD. Ayah satu anak ini penggila indoor trainer Zwift. Dalam sehari bisa tiga kali latihan dengan program Zwift. Jam 4 pagi setelah sholat subuh, sore setelah tidur siang, dan jam 11 malam hingga 12 malam. “Pokoknya baju harus slim fit size S, celana Chino dan sepatu tipis,” tekad Fath.

Menghindari eksklusifitas, komunitas yang diinisiasi oleh dokter ahli bedah tulang, Dr. Jufri Latief, Sp.B, Sp.OT ini kerap mengajak komunitas lain di Makassar untuk turing bersama seperti Makassar Cycling Club (MCC), Sepeda Lipat Makassar (SLIM), dan Celebes Road Bike Community (CRBC).

Komunitas yang awalnya bernama Survey Team (ST) ini mempunyai ciri khas yakni setiap tahun mengadakan turing keluar negeri. Kebetulan salah satu anggotanya, Asadul Islam mempunyai kerabat di negeri kincir angin, Belanda. Mudah bagi Asadul mengajak teman-temannya gowes di Amsterdam.

Sudah dua kali turing ke Belanda ini berjalan. Tahun 2018, Amsterdam-Brussel selama tiga hari gowes dan tiga hari bertamasya. “Hari pertama keliling kota Amsterdam sejauh 70 km. Hari kedua turing sejauh 120 km dari Amsterdam ke Breda. Lalu hari ketiga turing sejauh 100 km dari Breda menuju Brussel,” bilang Asadul.

Cycling trip pertama ini diikuti oleh 25 orang cyclist dan membawa dua orang mekanik. Tahun 2019, 20 cyclist E2G berangkat lagi ke Amsterdam. Kali ini dipilih rute Amsterdam-Koln.

“Hari pertama Giethoorn ke Lelystad sejauh 60 km, hari kedua dari Amsterdam ke Arnhem 110 km, hari ketiga Arnhem ke Wesel sejauh 90 km, dan hari terakhir, Wesel menuju Koln 102 km,” jelas Asadul lagi.

Baru saja mereka balik dari cycling trip Amsterdam kedua, sudah merencanakan cycling trip 2020. “Teman-teman minta ganti, tidak lagi Belanda. Rencananya ke Italia atau Jepang,” tutup Jufri. (yudy hananta)

 


COMMENTS