Semangat Balap Gajah Merapi Bali Berkobar Selama 40 Tahun

Namanya unik, Gajah Merapi. Usianya sudah 40 tahun. Klub asal Bali ini masih tetap eksis hingga hari ini. Meskipun pernah vakum tapi cyclistnya semangat untuk mengibarkan nama ini kembali.

Waktu itu, tahun 1979, Ir. I Gst. Md.S. Diarsa, MT, Drs. I Gede Nurmawan dan Drs. I Gede Sukadana sedang getol-getolnya bersepeda. Tidak santai, bersepeda “garis keras” alias harus berprestasi jadi santapan harian.

Bersama empat cyclist lainnya, mereka ber-tujuh terus berburu piala dari even ke even balap. Hingga tahun 1990, anggota klub Gajah Merapi mencapai 40 cyclist. Spiritnya masih tetap yakni bersepeda untuk mengejar prestasi.

“Masa jaya kami adalah tahun ‘90an dimana kami menjadi juara satu di setiap balap yang kami ikuti!” bangga Ir. I Gst. Md.S. Diarsa.

Lantas, mereka mengembangkan sayap, klub Gajah Merapi dibuka juga di Singaraja oleh I Gst. Pt. Sueca, adik dari I Gst. Md.S. Diarsa. “Di Singaraja juga kerap menyabet piala di tiap lomba,” imbuh Diarsa.

Sesuai dengan namanya. Gajah adalah binatang terbesar dan terkuat sedangkan Merapi adalah lokasi markas yakni di Jalan Merapi. Ada logo api melambangkan semangat yang berapi-api. “Arti secara keseluruhan adalah semangat yang besar dan berapi-api mencapai prestasi,” bilang Diarsa.

Mengejar prestasi ini berlanjut terus hingga tahun 2003. Beberapa anggota Gajah Merapi pernah menjuarai balap Pra-PON XII, dan menjadi peserta PON XII dan XIII.

“Waktu itu, teman-teman memiliki jadwal latihan dua hari sekali. Minimal jarak latihan 80 km. Untuk hari Sabtu turing dari Denpasar menuju Singaraja lewat Bedugul dan Minggu turing dari Singaraja-Seririt-Pupuan-Tabanan-Denpasar,” tutur Diarsa.

Sayang, sejak 2003 hingga 2015, klub Gajah Merapi vakum karena anggotanya banyak yang sibuk dan pamor road bike sedang meredup. Tapi semangat Gajah Merapi masih “berapi-api”. Jadi tahun 2017, atas inisiatif dari Bagus Saka Putra dan Agung Ocha Diartini (putri bapak Agung Diarsa), Gajah Merapi dibangkitkan kembali. Kali ini konsepnya agak berbeda.

“Konsep kali ini adalah bersepeda sebagai olahraga sehat dan rekreasi. Tapi tidak melupakan mencari bibit muda atlet sepeda untuk balapan dari Bali. Konsisten dengan semangat balap Gajah Merapi,” tutur Bagus Saka yang mantan atlet dan pernah menjuarai piala P&K Cup.

Saat ini, Gajah Merapi memiliki 40 anggota aktif dan Bagus Saka dibantu Fonda Wianta fokus sebagai pelatih bagi cyclist yang memang ingin menjadi atlet. “Jadi Gajah Merapi sebagai klub rekreasi sekaligus pembinaan atlet,” tukasnya.

Saat ini, jadwal gowes hari Sabtu bergabung dengan Polpiet (dari Polda Bali) sehingga titik kumpul dan finis di Polda Bali Jalan Seruni. “Buat mereka yang mempunyai jam kerja fleksibel biasanya juga gowes hari Senin dan Rabu start dari McDonalds Gatot Subroto Tengah dan langsung finis di rumah masing-masing untuk bersiap kerja,” bilang Bagus Saka.

Uniknya, Gajah Merapi memiliki semboyan 50 persen gowes, 30 persen foto-foto, dan 20 persen kuliner. “Semua bahagia dengan semboyan kami ini!” bilang Bagus Saka lantas tertawa.

Beberapa anggota Gajah Merapi adalah pasangan suami istri. Menurut teman-temannya, Komang Arab dan Titin dinobatkan menjadi pasangan terbawel. “Sedangkan pasangan Ferry dan Irma adalah pasangan paling unik karena mereka selalu tersesat setiap gowes bareng,” cerita Bagus Saka.

Di luar agenda gowes, banyak anggota Gajah Merapi yang kumpul bersama keluarga bisa makan malam atau ngafe bersama. Kadang mereka juga mendaki gunung Batur bersama-sama. “Bisa lebih mendekatkan diri sehingga membuat Gajah Merapi lebih kompak dan solid,” tutur Bagus Saka yang juga terbuka untuk gowes bersama komunitas lain.

Sering, Gajah Merapi mengikuti jadwal gowes klub lain agar bisa menyatu dan menambah teman. “Yang pasti kami ingin iklim gowes di Bali ini kondusif dan makin besar bisa menambah teman juga,” tutup Bagus Saka. (mainsepeda)

 


COMMENTS