Mainsepeda selalu membagikan hal-hal yang unik dan tidak biasa di sepanjang rute East Java Journey (EJJ) 2026. Semisal marka atau papan rambu jalan unik sekaligus membingungkan yang berada di desa Banyuurip, Senori, Tuban.
Bukannya memberikan petunjuk yang jelas, marka tersebut justru menggambarkan visual yang cukup ekstrem: sebuah mobil yang seolah terbang terjun ke jurang. Namun, sejatinya tak ada patahan jalan di depan rambu. Hanya jalanan yang menanjak dan kemudian berkelok.
Baca Juga: Dapatkan Foto Memorable EJJ 2026, Unduh di Mainsepeda App!
Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, menyebut marka ini sebagai salah satu 'objek wajib foto' di EJJ 2026 karena keunikannya yang multitafsir. "Rambu ini kan memberi kejelasan di depan ada apa. Tapi kalau ini multipretasi. Jadi abadikan rambu ini karena belum tentu anda mau lewat lagi," ucap Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, dalam podcast-nya beberapa waktu lalu.
Tantangan ini pun menyebar. Rudy Soegiarto Rustanto pun jadi cyclist pertama yang membocorkan dimana letak rambu itu tak selang berapa lama dari podcast Mainsepeda tersebut ditayangkan. Cyclist yang dijuluki Rudy Cepu itu mengaku jika rambu itu terletak dekat kampung halamannya.
"Satu tahu tanda itu karena saya kan akamsi, jadi gampang menemukan karena akamsi itu dan sudah tahu lama, sering lewat juga," katanya.
Perihal maksud dibuatnya rambu itu, Rudy pun menjelaskan secara teknis rambu tersebut dipasang untuk memperingatkan adanya jurang tanpa pagar pembatas di ujung tanjakan. Dari sudut pandang pengendara yang sedang menanjak, jalanan tersebut memang terlihat seolah-olah terputus.
Baca Juga: Kesan EJJ 2026 Versi Peserta: Pelayanan Memuaskan, Rute Minta Jangan Dites Om JB
"Karena ada jurang yang ga ada pagar pembatasnya. Tapi kayaknya gak pernah ada yang masuk jurang itu. Tanjakannya juga tidak terlalu tajam," tambahnya.
Rudy sendiri sukses finish di EJJ 2026 600 Km dengan catatan waktu 57 jam 25 menit 7 detik. Ia tidak terlalu nge-gas karena kategori 600 Km bersifat non-kompetitif. Sebelumnya Rudy sudah pernah beraksi di EJJ 2024. Saat itu, ia beraksi di kategori 1.500 Km dan menyelesaikan tantangan dalam 117 jam 29 menit 6 detik.
Sementara itu, Janu Joni sempat mengabadikan marka tersebut dengan merekam video untuk kebutuhan konten-kontennya. Kebetulan, Janu adalah seorang influencer sepeda yang punya ribuan follower di Indonesia.
"Maksudnya paham, mudah dimengerti, tapi belum pernah lihat sebelumnya," kata cyclist asal Solo itu.
Janu sendiri langganan mengikuti event EJJ. Pada 2024, ia bersama rekannya Wahyu Noegroho berhasil menyelesaikan tantangan EJJ 2024 1.500 Km sekaligus menjadi juara di kategori pair. Selang setahun berikutnya, Janu menjajal solo dan finish 1.500 Km dengan rekor waktu 117 jam 52 menit 40 detik. Namun, tahun ini ia memilih ikut EJJ 2026 600 Km karena ingin menikmati perjalanan.
Di sisi lain, Dwi Raga Priambudi juga merasakan keanehan ketika melihat marka tersebut. Ia sulit memahami karena tidak pernah diajarkan sewaktu sekolah sehingga tidak lazim.
"Tanjakannya masih bisa digowes, Lebih berat Watu Pecah yang tahun lalu keluar Nongko Jajar. Naik ngeri, turun lebih ngeri, harusnya rambunya cocok disana," tutur Dwi. (Mainsepeda)