Dari ratusan peserta East Java Journey (EJJ) 2026, tercatat dua peserta yang usianya telah masuk kepala enam. Joko Yulianto (66 tahun) dan Ardiansyah Triono (65 tahun). Mereka adalah cyclist tertua yang berani mengambil risiko mengikuti event ultra cycling Mainsepeda edisi keempat ini. Keduanya bersaing pada nomor 1.500 Km.
Joko mengaku motivasinya bersepeda dimulai ketika 2018, seusai ia pensiun. Hobinya itu semakin terasah ketika pandemi COVID-19 karena saat itu olahraga bersepeda dinilai paling aman. Jarak bersepedanya pun semakin jauh dan lebih jauh lagi. Ia pun akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti EJJ 2026.
Baca Juga: EJJ 2026: Joko Breakaway, JB, dan Zidan Mengintai
Motivasinya bersepeda jarak jauh berawal dari kehebatan ultra cyclist perempuan yang tidak ragu mengikuti event-event ultra. Ia melihat bersepeda jarak jauh ternyata sangat aman.
"Istri ada khawatirnya. Tapi saya lihat itu pesepeda perempuan aja berani, walaupun muda tapi kok berani gitu. Masa saya laki-laki nggak berani, walaupun sudah tua. Itu saja motivasinya," kata Joko.
Lebih jauh, cyclist asal Ponorogo ini mengaku tidak memiliki rencana mendetail terkait plan ride-nya. Kondisi tubuh dan rasa kantuk jadi indikator dimana ia akan berhenti mengayuh sepedanya.
"Saya gak mau terpancang jarak, tergantung tubuh saja. Sampai batasnya ngantuknya saja sampai jam berapa," jelasnya.
Sementara itu, bagi Ardiansyah, sepeda adalah bagian hidupnya. Ia sudah gowes rute Surabaya-Tretes sejak usia muda. Dan kebiasaannya terus berlanjut hingga hari ini. Bedanya, ia semakin konsisten bersepeda saat ini, khususnya usai pensiun.
Purnawirawan Jenderal yang lama bertugas di Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) itu memaksimalkan olahraga bersepeda untuk menjaga kesehatan. "Aku jaga kesehatan itu utamanya. Jadi berani makan apa saja. Kalau gak sepedaan, gak bisa makan sembarangan begini," kata Ardiansyah sembari makan mie instan dan es krim ketika rehat.
Tahun ini adalah ketiga kalinya Ardiansyah mengikuti EJJ. Edisi 2024 cukup berkesan baginya karena ia mendapatkan banyak apresiasi. Ardiansyah penuh luka karena mengalami beberapa kali insiden kecelakaan. Namun, ia tidak menyerah menuju garis finish, meski akhirnya over Cut off Time (COT) 1 jam 33 menit 2 detik. Sedangkan, tahun lalu, ia Did Not Finish (DNF) karena ada urusan pekerjaan.
Baca Juga: EJJ 2026: Seluruh Peserta 1.500 Km ’Lulus’ Tanjakan Jolotundo
"Saya optimis sih. Jam segini saja sudah mampu melahap 200 Km, tinggal 110 Km lagi (menuju CP 1). Kalau lancar saya perkirakan jam 01.00 (dini hari) nyampe," jelasnya penuh optimistis.
Rekor peserta tertua di ajang EJJ hingga saat ini masih dipegang oleh Go Suhartono (Koh Hay) pada edisi 2024 lalu. Saat itu, dengan usia 73 tahun, dia turun pada kategori pair bersama Muslik Arman Aditya dan sukses menjadi juara ketiga di kelompok tersebut setelah finis 156 jam. (Mainsepeda)